cita-cita menghafal quran

Cita-cita Kami

Ini tentang sebuah cita-cita. Cita-cita yang kami terjemahkan dalam sebuah program. Membentuk generasi intelektual penghafal Quran. Visi besar kami.

Di tempat ini, kebanyakan dari kami adalah mahasiswa. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Teknik, Ekonomi, MIPA, Hukum, Kedokteran, Komputer, Ilmu Sosial dan Politik, Ilmu Budaya, dan berbagai macam disiplin ilmu lainnya.Ya, di tempat ini terdapat calon arsitek, dokter, engineer, scientist, politisi, jurnalis, ekonom, akuntan, entrepreneur dan berbagai macam profesi pilihan mereka kelak.

Sebelum terjun ke ranah masing-masing, menjadi profesional di bidangnya, kami mencoba bersama-sama memasukkan Quran ke dalam hati. Menginstall Quran ke dalam hati. Dengan cara menjadikan setiap kami penghafal Quran.

Penghafal Quran di sini bukan orang yang bisa membaca Quran tanpa lihat teks. Penghafal Quran di sini, dia yang sungguh-sungguh mau menginternalisasi nilai-nilai Quran untuk keseharian mereka. Mereka adalah orang yang setelah menghafal Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, mereka langsung bertanya ke diri sendiri ‘hal apa yang harus saya lakukan untuk mengamalkan surat-surat ini?’

Mereka adalah dokter, yang ketika menghadapi pasien yg sakit nanti, mereka akan mendakwahkan Quran ke pasien2nya, bukan semata menyembuhkan fisik, tapi juga nmembantu pasiennya untuk memperhatikan penyakit yang boleh jadi ada dalam hatinya.

Mereka adalah jurnalis, yang dengan Quran yang mereka miliki, mereka membangun media massa yang jujur, benar, kredibel, dan beradab. Tidak seperti sekarang yang kebanyakan tentang pemutarbalikkan fakta.

Mereka adalah para peneliti, yamg dengan kepakaran yang mereka miliki (‘Ilm) itu menjadikan mereka lebih mengenal Allah dan mengajak murid dan sejawatnya untuk mengembalikan semuanya kepada Allah. Bahwa ‘ilm, ‘alam, sama sama berasal dari huruf ain lam mim, yang maknanya berdekatan dengan kata ‘alamah (tanda, penunjuk). Bahwa setiap ilmu apapun yang didapatkan harus menjadikan pemiliknya semakin kenal Allah.

Mereka adalah para tentara negara, yang dengan idealismenya, mereka menanamkan nilai pertama dari pancasila. Mereka berjaga, mereka membaca Quran, mereka membacakan kisah-kisah perjuangan para mujahidin baik di generasi nabi, juga pahlawan kemerdekaan. Semangat mereka sudah melampaui membela negara, lebih dari itu  semangat mereka sudah menjadi jihad fii sabilillah, dan syahid menjadi tujuannya.

Mereka adalah para seniman. Yang dengan Qurannya mereka mengajak manusia dari arah yang tidak tersentuh oleh penyeru lainnya. Dengan lembut mengarahkan manusia mendekat kepada Tuhannya. Mengekspresikan kehambaan mereka dengan rupa/karya yang tidak hanya indah, tapi juga penuh makna.

Mereka adalah orang-orang yang membanjiri negeri kita dengan semangat hidup bersama Allah. Karena para penghafal Quran hampir setiap detiknya mengingat Allah dengan ayat yang mereka baca.

Kemudian mereka akan melahirkan generasi baru. Anak anak mereka. Yang sejak dalam buaian, mereka tanamkan Quran ke dalam hatinya. Sehingga mereka tumbuh menjadi ruh baru bagi negeri kita. Mereka menjadi pemberani-pemberani baru. Memiliki cara pandang baru. Terbekali semangat baru. Mereka menjadi generasi yang benar-benar berbeda dari generasi negara kita sebelumnya. Karena apa? Karena sejak kecil, para penghafal Quran itu telah mendidik mereka anak-anaknya, telah membekali mereka Quran. Sebagaimana para sahabat senior dahulu mendidik generasi baru yang gemilah semacam Ibnu Umar, Ibnu abbas, Hasan, Husain, Ibnu zubair, dkk.

Bismillah, semangat!!!

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>