Ber-Quran Terasa Kurang Nikmat? Coba Ikuti 5 Langkah Ini

10 - Kalaulah hati itu bersih

Tahukah teman-teman semua? Berdasarkan efek yang dirasakannya, perbuatan baik bisa kita bagi menjadi dua kelompok. Pertama, perbuatan baik yang kita merasa nikmat saat mengerjakannya. Kedua, perbuatan baik yang kita masih merasa ‘pedih’ saat mengerjakannya. Untuk membuktikannya mari kita cek perbuatan-perbuatan baik berikut ini, mana yang masuk kelompok pertama dan mana yang masuk kelompok kedua?

  • Shalat 5 waktu

  • Bangun sebelum waktu shubuh, kemudian Qiyamullail?

  • Shalat shubuh berjamaah di Masjid (bagi laki-laki) dan awal waktu?

  • Tidak tidur selepas shalat shubuh, digantikan dengan berdzikir pagi, membaca Quran, atau aktivitas produktif lainnya?

  • Shalat dhuha meski hanya dua rakaat?

  • Shalat zhuhur di awal waktudan berjamaah di masjid (bagi laki-laki)?

  • Mengalokasikan sebagian rupiah untuk sedekah harian?

  • Menjenguk teman yang sakit?

  • Hadir tepat waktu dalam setiap agenda?

  • Menepati janji

  • Berusaha membaca Quran setiap hari

  • Berusaha menghafal Quran

  • Berpuasa sunnah senin-kamis

  • Menebar senyuman, tidak bermuka masam

  • Mengucap salam kepada saudara yang lain

  • Dan seterusnya…

Bagaimana, perbuatan baik mana saja yang kamu sudah merasa nikmat saat mengerjakannya? Adakah perbuatan baik yang masih terasa ‘pedih’ saat kamu kerjakan? Alhamdulillah kalau banyak perbuatan baik yang terasa lezat. Namun, bagaimana jika masih ada perbuatan baik yang terasa ‘pedih’ saat dilakukan? Bagaimana sebaiknya kita menindaklanjutinya? Mengingat, kita sudah sama-sama sepakat, setiap perbuatan-perbuatan baik tersebut bermanfaat bagi kita.

Teman-teman yang baik hati, agaknya kita perlu membaca sejenak petunjuk dari Allah ini:

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

Yang artinya: “… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah: 216)

Bila kita baca ayat tersebut berulang-ulang, kemudian mencoba untuk merenungkannya, kita akan mendapati nasihat penting bagi diri kita di dalamnya. Yakni, hendaknya kita belajar untuk menyukai sesuatu yang baik untuk kita, bermanfaat untuk kita, sekalipun sesuatu tersebut kurang kita sukai atau masih terasa ‘pedih’ saat kita melakukannya. Sekali lagi, hendaknya kita belajar untuk menyukai sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kita, sekalipun itu terasa berat bagi kita (pada awalnya).

Bagaimana caranya? Secara sederhana, kita bisa memulainya dengan membiasakan diri melakukan kebaikan-kebaikan tersebut. Sedikit-sedikit saja, tetapi konsisten dan berketerusan. Sehingga apa yang tadinya terasa ‘pedih’ bagi (hawa nafsu) kita, kemudian atas izin Allah akan menjadi lezat di hati kita. Bukankah suatu kenikmatan tiada tara saat kita bisa merasakan kenikmatan saat melakukan amalan-amalan baik di atas? Agar kita bisa konsisten dalam melakukannya, terlebih dahulu kita pun perlu menyadari bahwa rasa ‘pedih’ tersebut bekerja sebagaimana pahitnya obat yang harus dirasa oleh seorang pasien agar ia sembuh dari sakitnya. Timbulnya rasa ‘pedih’ merupakan reaksi atas hawa nafsu kita terhadap perbuatan baik. Karena di antara sifat hawa nafsu kita adalah membenci perbuatan ketaatan dan lebih menggandrungi kelalaian. Maka, bagaimanakah sikap kita terhadap rasa ‘pedih’ tersebut? Terima saja keberadaannya, kemudian hadapi, akrabi, maka insya Allah akan berubah menjadi kelezatan yang menentramkan hati.

Agar Interaksi dengan Quran Terasa Nikmat

Maka, teman-teman yang baik, apa saja yang perlu kita perhatikan dan lakukan agar interaksi kita dengan Quran terasa lezat? Berikut ini ada sedikit formulasi sederhana berdasarkan apa yang kami pelajari dari guru-guru kami:

Pertama, luangkanlah hatimu untuk Quran. Mungkin kita sering merasa waktu kita tidak luang. Saat membaca Quran, tiba-tiba teringat harus mengerjakan ini dan itu. Padahal boleh jadi bukan waktu kita yang tidak luang. Akan tetapi hati kitalah yang belum kita luangkan untuk Quran. Mengapa belum kita luangkan? Barangkali karena kita merasa Quran sulit untuk dipelajari/dihafalkan. Padahal Allah sudah menjaamin kemudahannya. Bukan hanya bagi anak pesantren atau ustadz-ustadz. Tetapi, kemudahan itu Allah buka bagi siapapun. “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu, agar kamu menjadi susah,” – (QS.20:2). Dan sesungguhnya, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran.” – (QS.54:17)”. Adakah kita mau?

Kedua, sediakan waktu khusus untuk Quran. Mungkin kita sering mendengar, atau pernah menanyakan pertanyaan ini, “Bagaimana caranya mengatur waktu agar bisa membaca/menghafalkan Quran di tengah padatnya aktivitas harian?”. Padahal, bukankah seharusnya pertanyaan ini lebih banyak terlontar: “Bagaimana caranya memanaje waktu agar bisa sempat bermedia sosial?”. Teman-teman yang baik, saat kita membaca Quran, kita sedang berinteraksi dengan Allah Yang Maha Pengasih, yang telah memberi kita banyak kenikmatan. Maka tidaklah elok bila kita hanya memberikan waktu sisa untuk-Nya. Kita harus bisa menyediakan waktu khusus kita untuk Quran. Waktu khusus bisa disesuaikan dengan aktivitas harian kita. Misalnya setiap selesai shalat shubuh sampai terbit matahari, 5 menit setiap selesai shalat 5 waktu, setiap sebelum tidur, dan seterusnya. Di waktu khusus inilah kita berusaha untuk menikmati aktivitas membaca, merenungkan, menghafalkan Quran dengan konsisten dan berketerusan. Sehingga aktivitas tersebut mendarah daging dalam keseharian kita. Awalnya mungkin berat. Akan tetapi, saat kita terbiasa dan sudah terbangun habitnya, justru kita akan merasa berat dan gundah saat meninggalkannya. So, sediakan waktu khusus. Jangan waktu sisa.

Ketiga, cari lingkungan dan pertemanan yang mendukungmu dalam berinteraksi dengan Quran. Dalam memulai dan menjalani interaksi dengan Quran, tidak bisa dipungkiri, semangat kita kadang naik dan kadang turun. Hal ini manusiawi. Akan tetapi, kita tetap perlu mengupayakan agar saat semangat turun anjloknya tidak terlalu menukik, serta saat semangat naik, naiknya bisa lebih melejit. Itu bisa dilakukan dengan men-sahabati mereka yang gemar berinteraksi dengan Quran juga, yang mau mengingatkan, yang kita akan terpicu oleh keteladanannya. Dengannya, insya Allah kita akan memiliki imunitas yang kuat terhadap lingkungan yang secara tidak langsung bisa menghambat konsistensi kita dalam berinteraksi dengan Quran. Hal ini bisa dilakukan dengan bergabung dengan kelompok/halaqah Quran di kampus, di masjid, atau di tempat lainnya yang memfasilitasi hal ini.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. al-Kahfi: 28)

Keempat, tentukan target harian, kemudian no excuse! pantang menyerah! Target harian berguna untuk mengontrol, menjaga, serta memicu kita dalam berinteraksi dengan Quran. Dalam hal ini bisa berupa waktu minimal yang harus diluangkan untuk Quran. Bisa juga dalam bentuk kuantitas halaman/lembar/ayat Quran yang dibaca. Adapun yang lebih baik dari itu adalah membuat target berdasarkan keduanya, durasi minimal dan kuantitas bacaan. Setelah itu konsistenlah untuk mencapainya setiap hari. Karena, sekali saja kita meninggalkannya, maka ke depannya kita akan mudah toleran terhadap tidak tercapainya target harian tersebut. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan “Siapa yang mudah toleran terhadap target-target kecilnya, ia berpotensi untuk mudah toleran juga terhadap tidak tercapainya target-target besar dalam hidupnya.” Adapun para sahabat radhiyallahu ‘anhum, di antara mereka ada yang mengkhatamkan Quran 30 Juz dalam tiga hari sekali, banyaknya dalam sepekan sekali, dan meskipun jumlahnya sedikit, ada pula yang khatam Quran sebulan sekali. Bagaimana dengan kita?

Kelima, berdoalah selalu kepada Allah agar Allah menguatkan hati kita. Sehingga kita bisa istiqamah dalam berinteraksi dengan Quran. Dengannya pula interaksi kita dengan Quran yang awalnya terasa ‘pedih’ atau berat, kemudian beralih menjadi nikmat, lezat, dan ketagihan.

Sekian kiat sederhana yang pertama-tama bisa kita lakukan agar interaksi kita dengan Quran terasa nikmat. Ya, ini hanya langkah awalnya saja. Semoga kita bisa mengamalkannya, dan mudah-mudahan di lain kesempatan kita bisa sama-sama menggali faktor-faktor yang lebih spesifik dapat meningkatkan kualitas interaksi kita dengan Quran. Seperti bagaimana caranya menghadirkan hati saat membaca Quran, bagaimana agar Quran bisa menjadi renungan yang menggugah dan mengubah hidup ke arah lebih baik, dan seterusnya.

Salam Semangat ber-Quran!
Dari kami yang sama-sama masih belajar untuk istiqamah ber-Quran,
– Tim Buku #M2PQ

#M2PQ?

Oh ya, mohon doanya ya teman-teman, dalam waktu dekat ini insya Allah kami akan menerbitkan buku #M2PQ. Buku yang berisi kisah lika-liku para santri IQF (mahasiswa) dalam menghafal Quran di tengah aktivitas harian mereka yang beragam di kampusnya. :D

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

2 thoughts on “Ber-Quran Terasa Kurang Nikmat? Coba Ikuti 5 Langkah Ini

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>