large

Tentang Kuliah, Organisasi, dan Hafalan

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya.”

Aku adalah salah satu mahasiswa Arsitektur Interior UI 2011, dengan latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan keluarga penghafal Quran, juga bukan keluarga ‘dakwah’. Aku juga tidak pernah mengecap pendidikan pesantren dan belum pernah mengikuti program Tahfizh mana pun. Namun, entah mengapa di daftar 100 mimpi saat menjadi mahasiswa baru UI, aku menulis yang salah satunya: Ingin hafal sekian juz saat wisuda. Saat itu belum terpikirkan bagaimana dan apa saja toolsnya, aku hanya pada sampai di niat, ingin melakukan suatu ibadah rutin selama menjadi mahasiswa.

Memutuskan bergabung di asrama tahfizh Indonesia Quran Foundation (IQF) di semester 5 adalah salah satu keputusan terbesar yang aku ambil selama masa perkuliahan. Salah satu keputusan yang sangat banyak memberikan pengaruh untuk diriku pribadi sampai detik ini. Tidak wajar saja rasanya saat itu, September 2013, aku mengepak barang dari kosan di daerah Kukusan Teknik untuk berpindah, atau aku lebih suka menyebutnya ‘berhijrah’ ke asrama Quran di ujung Gang Kapuk. Karena perpindahan itu bukan hanya soal berpindah jarak secara fisik, namun juga berpindah secara ruhiyah. Suatu niat yang akhirnya menjadi sebuah gerakan ‘konkrit’, kalau kata anak Teknik :D

Tidak sedikit teman yang heran dan mengajukan banyak pertanyaan saat itu.

“Kamu gimana nanti nugas atau ngerjain urusan organisasi kalo harus sampai malam di kampus?”

“Gimana atur waktunya Na? Subuh dan Isya ada program hafalan begitu, kapan nugasnya?”

“Yakin Na, bisa betah dan bertahan disana? Kan jarang anak Teknik di sana. Kaya masih kurang sibuk aja.”

Dan banyak pertanyaan lain yang aku hanya bisa jawab dengan senyum dan meminta doa mereka saja. Sejujurnya, aku sendiri memang tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Lebih karena aku sendiri belum mengikuti programnya, jadi bagaimana aku bisa menjawab?

Kuliah dan Organisasi

Satu hal yang jelas dan aku yakini akan keputusan pindah ke IQF adalah aku akan menghadapi berbagai tantangan. Aku tidak pernah bermimpi akan mudah selama mengikuti rangkaian program Quran IQF, terutama jika dibenturkan dengan tugas dan perkuliahan super ala anak arsitektur, plus ‘beban’ amanah organisasi tingkat UI. Aku tidak mau terlihat sok sibuk, masih ada banyak teman aku yang lain yang lebih sibuk. Berbisnis, ikut lomba dan konferensi sana-sini. Jadi aku pikir, menambah kesibukan lain terutama untuk Quran, badanku masih bisa menolerir.

Namun, seperti halnya mahasiswa tingkat 3, tugas kuliah menjadi semakin menjadi-jadi. Terutama di jurusanku, Arsitektur Interior. Tidak jarang di awal menjadi santri IQF aku beberapa kali masih izin terlambat QT karena masih menyesuaikan dengan agenda tugasku di Teknik yang biasanya justru mengambil waktu malam selepas Isya. Dan aku sendiri antara belum berani menolak ajakan teman untuk belajar atau mengerjakan tugas bersama di malam hari, karena memang sudah ‘tradisi’ di Teknik seperti itu.

Membagi waktu antara kuliah dan organisasi saja aku masih kewalahan, aku malah menambah list program hafalan dalam salah satu prioritas kegiatanku. Dalam organisasi, tuntutan untuk istiqamah dan komitmen sampai akhir kepengurusan Salam UI 16 menjadi salah satu tantangan juga untuk aku dalam menjaga kondisi fisik yang sedikit demi sedikit tergerus. Aku sebenarnya cukup beruntung dalam hal organisasi, karena aku berada dalam lingkungan Aktivis Dakwah Kampus yang mereka mendukung 100% saat mereka tahu aku bergabung ke IQF. Walaupun tidak jarang yang masih bertanya mengapa aku berani mengambil program Tahfizh, sedang mereka tahu perkuliahan di teknik sangat padat.

Lalu bagaimana dengan hafalan? Bagaimana waktu istirahat?

Seperti yang sudah aku duga. Hari-hari, pekan-pekan, dan bulan awal menjadi santri IQF adalah masa adaptasi yang sangat berat bagiku. Mengondisikan diri untuk memprioritaskan waktu bersama Quran saat program Quran Time (QT) pagi dan malam, tetap terjaga dan bersama Quran selepas subuh, sudah stay di asrama sebelum Isya, hidup bersama dalam satu rumah dengan orang-orang baru.. Meluangkan waktu bersama Quran adalah sesuatu yang belum pernah aku benar-benar seriusi sebelumnya.

Masalah jam istirahat, bisa aku katakan sangat berkurang drastis. Selepas QT malam, misalnya yaitu jam 9 malam, di saat santri akhwat lain rata-rata langsung beristirahat, aku harus memilih antara tidur dengan konsekuensi akan sangat menyesal karena membuang waktu untuk mengerjakan tugas, atau tetap terjaga menugas dengan konsekuensi paginya akan sangat lelah dan mengantuk di kampus. Dua hal yang sangat dilematis. Di awal program, aku sangat mudah menyerah dan memilih untuk tidur, memasang alarm untuk bangun jam 3 pagi. Namun, dengan semua proses adaptasi yang baru ini, sangat seringnya rencana itu gagal dan aku baru bangun saat subuh, yang artinya aku tidak punya waktu mengerjakan tugas karena harus langsung QT pagi. Hal yang paling membuat aku sedih, aku termasuk orang yang sangat peduli dengan nilai akademis. Saat masih tinggal di kosan, aku bisa mengerjakan tugas dari Isya sampai jauh tengah malam. Tidak selesai mengerjakan tugas dengan baik, mengantuk bahkan tidur saat kuliah di kelas pagi, tidak bisa mengikuti kerja kelompok malam hari, dan hal-hal lain yang membuat perform akademisku menurun, cukup membuatku stres di awal menjadi santri.

Masa Adaptasi

Dimulai dengan memanage waktu. Manajemen waktu terbaik yang aku punya tidak lain adalah dengan mengurangi jam tidur malam, selalu memaksa badan dan mata tetap on dan terjaga selepas pulang setoran hafalan saat QT malam. Kemudian langsung membuka ‘lapak’ atau area mengerjakan tugas di koridor depan kamar, karena aku harus menjaga jarak dengan kasur, bantal dan selimut. Lalu membuat kopi, membuka laptop, membaca buku, membuat maket. Ya, semua terpaksa aku lakukan sampai jauh larut malam bahkan sampai fajar. Di lain sisi, aku juga sangat beruntung ada sahabat sesama santri yang satu jurusan denganku, dan kami berdua pada akhirnya saling mensupport untuk ‘tidak membiarkan salah satunya tertidur lama’. Kami sering membuat kesepakatan begadang bersama, atau bergantian tidur beberapa jam, jika memang sudah sangat lelah. Intensitasku dan sahabatku di asrama untuk begadang yang termasuk sangat tinggi itu pada akhirnya membuat santri akhwat lain paham dengan jadwal begadang kami, dan memaklumi jika menemukan kami tertidur di koridor depan kamar saat menjelang Subuh.

“Quran tidak akan mau diduakan, ia sendirilah yang akan menyeleksi siapa yang berhak bersanding dengannya.” Aku lupa menemukan kalimat ini di mana, namun kalimat ini yang selalu membuat semangat aku kembali naik, aku tidak ingin menjadi orang yang kalah, merugi karena tidak berhasil mencari jalan menuju Quran hanya karena terprioritaskan hal duniawi lainnya.

Down, stress, kewalahan. Aku membutuhkan beberapa saat untuk menyadari, bahwa hanya dengan mengikuti program Tahfizh 3 jam sehari bersama Quran saat QT pagi-malam tidak bisa menjamin lancarnya hafalan kita. Karena ternyata, menghafal itu bukan soal mengikuti jam programnya saja, tapi juga diaplikasikan nyata dalam aktivitas sehari-hari. Terutama dengan aktivitas kuliah-organisasi setiap harinya, segala keletihan fisik di siang hari atau bahkan dengan ditambah begadang, program QT 3 jam sehari itu tidak bisa menjamin apa pun. Justru seringnya, waktu QT tersia-siakan karena badan lelah dan akhirnya tertidur saat program. Quran tidak mau diduakan. QT pagi-malam, tidak akan bisa efektif jika di jam lainnya kita disibukkan dengan hal-hal lain yang melenakan. Hal inilah yang salah dalam mind-setku, aku sangat sering hanya bersama Quran di jam-jam QT. Intinya adalah, segala kesibukan duniawi lainnya, seharusnya tidak boleh sampai mengalahkan waktu ibadah atau ber-Quran kita. Ketika memang kita ingin menjadi penghafal, pada akhirnya kita memang harus mengkondisikan ruhiyah untuk tetap terpaut dalam murajaah. Dengan memaksakan diri, aku ingin menciptakan habit baru.

Tantangan lainnya adalah, proses menghafal juga aku rasakan tidak mudah. Metode menghafal aku masih lemah sehingga sulit mengejar target setoran harian. Aku harus mencari metode yang cocok untukku, apakah dengan metode talaqqi, kinetic, audio visual, atau yang lainnya. Setelah sharing bersama teman santri akhwat lainnnya, aku kemudian menyadari bahwa masih banyak jam-jam di luar program yang aku habiskan untuk hal yang tidak perlu, seperti banyak mendiskusikan hal-hal yang kurang penting bersama teman, berjalan-jalan untuk refreshing, dan seterusnya.

Pada akhirnya, aku mulai belajar beradaptasi, sedikit demi sedikit. Bagaimana mengatur waktu supaya tidak berbenturan dua hal ini, yaitu tugas-organisasi dan program hafalan. Aku mulai belajar untuk memprioritaskan waktu QT malam, izin untuk tidak mengikuti kerja kelompok saat malam hari misalnya, belajar mengomunikasikan pentingnya jam program hafalan Quran ini kepada teman-teman aku di FT. Selain itu aku belajar memaksimalkan waktu senggang siang hari untuk menyicil mengerjakan tugas, menyalin catatan kuliah teman yang sempat terskip olehku, dan lain-lain.

Sebagai orang yang awam sepertiku, ekstrimnya, aku pada akhirnya harus merombak seluruh kebiasaanku sehari-hari. Ya, ada banyak hal berubah, terutama habitku semenjak menjadi santri IQF. Dengan segala kehectican kuliah, aku sering meluangkan waktu di studio arsitektur sambil mengulang hafalan atau murajaah, mendengar murratal Quran, setoran hafalan ke teman dekatku di jurusan, membaca surat yang dihafal saat shalat, atau membaca arti dan tafsir ayat yang sedang dihafal. Satu kebiasaan baru yang berdampak setelah aku menjadi santri IQF adalah Quran yang tiap hari ada dalam tasku, karena sebelum di IQF aku tidak begitu sering membawa Quran pribadi.

Kendala

Dalam 6 bulan pertama aku di IQF, berat badanku turun dan akhirnya sampai 2 kali terkena tipes. Aku termasuk orang yang sangat jarang sakit, bahkan sebelumnya tidak pernah sakit tipes. Bagian yang paling berat adalah mengomunikasikan dengan orangtua, yang akhirnya menyalahkanku kenapa nekat mengambil program asrama dan ujung-ujungnya memaksaku pindah kosan lagi dan fokus kuliah saja. Dengan berbagai alasan, alhamdulillah aku masih bisa mempertahankan diri di IQF dengan janji tetap mempertahankan nilai akademis. Satu janji yang cukup berat, tapi harus aku lakukan supaya orangtua tetap mengizinkan aku di IQF. Tidak pernah terbersit untuk menyalahkan IQF akan kondisi fisik yang drop, karena memang aku sudah menebak hal ini. Atau penyesalan menyibukkan diri di IQF, karena justru aku merasa sangat hidup di asrama. Baru kali ini aku merasa memiliki target yang dapat memacu semangatku.

Keberkahan Quran

Waktu terasa begitu berkah dan tidak ada yang tersiakan, terutama waktu Subuh dan Isya, juga waktu senggang lainnya. Satu hal yang sangat membedakan dengan kehidupan kuliah mayoritas mahasiswa pada umumnya, karena saat Subuh dan Isya biasanya akan banyak dihabiskan dengan aktivitas yang ‘tidak jelas’.

Allah juga memberikan banyak rezeki lain, salah satunya dengan memudahkan urusan akademisku. Aku bisa memberikan bukti ke orangtua dengan menjadi asisten dosen dalam 2 semester di mata kuliah inti Arsitektur, membantu orangtua dengan mencari dan memperoleh beberapa beasiswa, mengajar les privat, dan yang terakhir bisa tetap lulus mengerjakan skripsi pada semester terakhir kuliahku. Alhamdulillah.

Qadarullah, di tahun terakhir aku kuliah, Allah justru memberikan begitu banyak pengalaman berharga untukku. Dari mulai menjadikan aku salah satu Supervisor santri akhwat untuk program Tahfizh Smart 3, sampai kemudian menjadi salah satu Pengurus Inti IQF.

Proses aku sebagai santri saja masih sangat lemah, tapi kemudian Allah memberikan tantangan lain untukku, dengan memberikan ‘beban’ amanah baru sehingga mau tidak mau aku sendiri yang harus mengakselerasi diri. Perjalanan yang sangat cepat dan di luar bayangan aku, karena sebelumnya aku tidak pernah berencana ingin menjadi pengurus IQF. Sebuah kepercayaan dari Allah yang harus aku jaga dengan banyak memperbaiki diri karena aku dituntun memperbaiki santri yang lain. Aku merasa sangat bersyukur, Allah mempermudah banyak proses dalam hidupku selama menjadi santri dan pengurus IQF. Seperti saat mengerjakan skripsi, orangtua sempat mempertanyakan apakah aku bisa mengerjakan skripsi dengan maksimal dengan berbagai fokus aku yang lain. Baik di kuliah, target hafalan asrama, amanah Pengurus Inti juga di SALAM UI 18, dan merangkap Asdos Departemen Arsitektur. Beruntung badanku sangat kuat, Allah menguatkannya, ketika menjalani masa-masa berat di tahun terakhir kuliah.

Aku tidak menjalani semua kesulitan ini sendiri, karena alhamdulillah aku begitu banyak mendapat semangat dari santri akhwat lain, terutama dari musyrifah. Keseriusan mereka, proses menghafal mereka yang beragam dengan kesibukan mahasiswa lainnya, membuat aku yakin niat menghafal ini akan diberi kemudahan oleh Allah. Dan tentu saja atas izin Allah-lah yang bisa membuat aku tetap bertahan di IQF sampai sekarang. Namun, satu hal, aku masih memiliki PR karena target hafalan aku masih sangat jauh dibanding santri akhwat yang lain. Aku sering berpikir, dalam lingkungan yang baik seperti di asrama ini saja aku masih sulit menjaga hubungan dengan Quran, masih sering disibukkan hal lain, dan masih sering futur, apalagi jika aku keluar dalam lingkaran ini?

IQF sudah lebih dari sekedar tempat aku tinggal, ia sudah masuk menjadi salah satu kepingan terbaik dalam hidupku, memberikan banyak pengalaman, pembelajaran ikhlas, pembelajaran dari makna berjuang, rasa syukur.. Tempat dimana aku bisa mempush diriku sampai titik limit. Juga menyingkirkan segala keraguan orang lain terhadap aktivitas aku yang lain.

Jika dirunut, perjalanan aku menemukan IQF mungkin adalah sebuah bentuk jawaban dari doaku 4 tahun lalu. Saat menjelang kelulusan SMA, aku tidak pernah berdoa untuk masuk Universitas A, B atau C, aku ikhlas diberi takdir di Universitas mana pun. Yang aku ucapkan dalam doa hanya semoga aku menemukan suatu tempat di mana aku bisa menuntut ilmu dengan maksimal namun juga sekaligus menuntut ilmu agama, mendekati Allah. Tempat dimana aku dijaga, diberi lingkungan yang baik, berada dalam kondisi ruhiyah yang saling menguatkan, dan selalu mengingat Allah. Doa itulah yang berulang kali aku ucapkan. Dan begitu baiknya Allah yang telah mengabulkan doaku.

 

Tentang Penulis:
Ratna Puspa Indah merupakan mahasiswa Arsitektur Interior, FT UI, angkatan 2011. Amanah yang diemban saat ini adalah Manajer SDM IQF, Kepala Bidang Internal Salam UI 18, dan Fasilitator/Asisten Dosen Dept. Arsitektur UI. Motto hidupnya adalah “Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan”.

Ingin tahu kisah-kisah lainnya? Yuk pesan buku MMPQ ini :)

20150629201245

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>