Peserta Tahfizh Smart 4 dan alumni

Masa Orientasi Tahfizh Smart 4 Resmi Dibuka

Pada hari Senin, 7 September 2015, setelah Isya dimulai pembukaan masa orientasi Tahfizh Smart angkatan 4. Orientasi kali ini memiliki tema 30 Hari Mencari Cinta Illahi, dengan tagline “Mengejar Cinta Illahi.” Acara dibuka oleh Arif Rahman Hakim selaku Kepala Program Tahfizh Smart, dilanjutkan dengan tasmi surat Nuuh oleh Ustadz Sulaiman.  Setelah tasmi, H. Sugeng Suprayitno selaku Dewan Pembina Indonesia Quran Foundation memberikan sambutannya dan membuka secara resmi program Tahfizh Smart 4.

Acara puncak pada malam itu adalah Studium Generale oleh KH. Deden Muhammad Makhyaruddin, seorang penghafal Quran yang mampu menyelesaikan hafalannya dalam 56 hari. Saat ini, selain menjadi pengasuh pesantren milik keluarga di Sadeng, Bogor, beliau juga merupakan salah satu Dewan Penasihat IQF.
Acara ini dimoderatori oleh Abdullah Ibnu Ahmad, dan dihadiri oleh santri putra dan santri putri Tahfizh Smart 4 yang berjumlah 56 orang. Hadir pula perwakilan alumni Tahfizh Smart 1 sampai 3.

Tema yang diangkat dalam Studium Generale kali ini adalah, “Mengapa Menghafal Quran?”
Ya, mengapa menghafal Quran?
Dalam Quran disebutkan bahwa umat terdahulu diperintahkan untuk menghafal kitab-kitab mereka. Namun, tak ada jaminan dari Allah bahwa Allah akan memberikan penjagaan pada kitab mereka. Umat Nabi Musa diperintahkan untuk menghafal kitab Taurat, dan ketika itu tak ada yang mampu menghafalnya kecuali Nabi Uzair.

Quran adalah satu-satunya kitab yang dijaga keasliannya oleh Allah. Allah yang menjamin penjagaan Quran dan tidak diperintahkan kepada manusia untuk menjaganya. Lalu untuk apa menghafal Quran? Seakan-akan, Allah tidak butuh makhluk untuk menjaga kitabnya. Dan inilah kehebatan Quran. Tanpa diperintahkan seperti umat terdahulu, hati manusia tergetar hatinya untuk menghafal. Siapa yang menyuruh? Tidak ada yang menyuruh. Karena hubungan manusia dengan Quran melebihi kebutuhan manusia akan oksigen. Para sahabat rasul terdahulu lebih rela kehilangan nyawa ketimbang kehilangan Quran. Jika kita tidak merasa seperti itu, berarti hati kita telah mati. Quran adalah oksigen dan menghafal Quran adalah bernafas dengan oksigen itu.

Mengapa menghafal Quran? Jawabannya karena ingin hidup. Karena ingin jadi manusia. Karena kita butuh Quran. Bukannya Quran yang butuh penjagaan kita, namun kitalah yang butuh penjagaan dari Quran.

Selepas materi, tedapat sesi tanya jawab. Sesi tersebut berlangsung cukup singkat dengan dua penanya santri putra, dan satu santri putri. Di akhir acara, Ustadz Izharul Haq, Lc. selaku ketua yayasan Indonesia Quran Foundation memberi sambutan kepada santri baru dan memperkenalkan dirinya dan jajaran pengurus Indonesia Quran Foundation. Pada pukul 22.00 lebih sedikit, acara pun berakhir dan santri dipekenankan menuju asrama masing-masing untuk beristirahat. Menyiapkan tenaga untuk bangun Qiyamul Lail di sepertiga malam dan meneruskan aktivitas Quran di pagi harinya.

 

Redaktur: Asma Nabila

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

2 thoughts on “Masa Orientasi Tahfizh Smart 4 Resmi Dibuka

Leave a Reply to mutiah Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>