Quran Time

1a

Menghafal Quran adalah sebuah proses. Tidak perlu berputus asa, apalagi berputus asa sebelum memulai.

Sehari semalam, dua puluh empat jam, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk kebaikan? Berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk berinteraksi dengan-Nya? Berapa lama kita bercengkerama dengan Quran? Terkadang kita lupa, hidup ini hanya sementara saja, hanya sekadar singgah sebentar saja. Jika besok atau hari ini Allah berkenan memanggil kita, bekal apakah yang telah kita siapkan untuk menghadap-Nya? Kita telah diberikan anugerah kehidupan, anugerah waktu, dan terutama sekali diberikan kenikmatan yang sangat besar, berupa nikmat beriman dan ber-Islam. Tidak semua manusia mendapatkan anugerah tersebut. Lalu, bagaimana cara kita mengolah rasa syukur atas kenikmatan yang terlampau besar tersebut?

Merasa sibuk? Seolah-olah kitalah manusia tersibuk di dunia ini. Tengok lagi hati kita, barangkali ada yang menyumbat menutupi hati, sehingga kita dengan ringan merendahkan diri sendiri dengan mengkatakan “aku sibuk”, “aku tak punya waktu”, membenarkan segala alasan agar mendapat pemakluman. Betapa kasihan diri kita jika masih seperti itu.

“Tidak ada orang yang sibuk di dunia ini, yang ada hanya orang yang tidak bisa mengelola waktu!”

Bagaimana pun, setiap dari kita mempunyai modal waktu yang sama dalam satu hari; dua puluh empat jam. Para ulama besar tidak memiliki waktu yang lebih banyak dari kita. Para negarawan, pengusaha sukses nan penderma, dan orang-orang besar yang shalih dan dekat dengan Quran, mereka memiliki waktu yang sama dengan kita, yang tentu aktivitas kita belum sepadat mereka.

Yang membedakan adalah keberadaan Quran di dalam hati. Seberapa luang hati kita untuk Quran.

Mari renungi, Adakah Quran di dalam dada kita? Sudahkah Quran ada bersama langkah-langkah kita? Sudahkah Quran ada dalam tutur kata-kata kita? Sudahkah Quran menghiasi hari-hari kita dalam setiap laku kita? Jikalah ada Quran di dalam hati, kedukaan akan sirna. Quran membuat hati senantiasa bersujud, bersyukur, dan bahagia.

Menghafal Quran, adalah salah satu upaya untuk mengintensifkan interaksi kita dengan Quran. Dengan menghafalkannya, artinya kita mengulang-ulang bacaan berkali-kali lipat daripada membaca biasa. Ketika kita berada di kereta, di kendaraan, di jalanan, dan di mana pun, kita menjadi mudah melafalkannya. Ia adalah sebuah proses yang tidak ada batasnya. Setelah hafal 30 juz, bukan berarti selesai prosesnya, melainkan ada tanggung jawab lebih besar untuk menjaganya. Semakin banyak hafalan, semakin besar tanggung jawab, namun juga menentukan semakin tinggi tingkatan surga yang akan didapat.

Menghafal Quran adalah sebuah proses. Tidak perlu berputus asa, apalagi berputus asa sebelum memulai. Cobalah menghafal satu, dua, atau tiga ayat. Setelah hafal, tambah lagi ayat-ayat baru, dan seterusnya. Jika kita meluangkan hati, Insya Allah akan Allah mudahkan.

Prinsip sederhananya, ketika kita ingin mencapai sesuatu maka kita harus tegas mengalokasikan waktu untuk menjalani proses-prosesnya. Mengalokasikan waktu bukanlah sekadar mengambil waktu sisa. Untuk sesuatu yang kita mengaku cinta atasnya, bukankah tidak layak jika hanya memberikan yang tersisa dari kita?

Sediakan waktu khusus untuk berinteraksi dengan Quran. Di Indonesia Quran Foundation, kami menyebutnya dengan Program Quran Time. Hindari sementara hal-hal yang mengganggu kita untuk berinterkasi dengan Quran, gadget misalnya. Harus fokus! Percayalah, target sebesar menghafal Quran tidak akan tercapai jika cara dan usaha kita sama dengan orang-orang biasa. Kita butuh pengkhususan waktu!

“Luangkanlah hatimu, Allah akan luangkan waktumu.” (TahfizhSmartisme)

Bagi mahasiswa yang ingin menghafal Quran, agendakan waktu untuk belajar, organisasi, Quran Time, dan kegiatan lainnya. Bagilah porsi waktumu secara adil. Kenali waktumu, kapan waktu yang tepat untuk menghafal, kapan waktu yang tepat untuk murajaah, dan kapan waktu yang tepat untuk tilawah.

Jika kita benar-benar telah meluangkan hati, niscaya kita akan menemukan banyak sekali waktu tambahan untuk bercengkerama dengan Quran, misalnya saat berada di kereta, ketika sedang sendiri menuju suatu tempat, saat berkendara di motor—tentunya dengan tetap waspada—, dan lain sebagainya. Itulah keluangan-keluangan waktu yang diberikan Allah. Jadi sepadat apa pun aktivitas kita, keluangan itu selalu ada. Tergantung bagaimana keluangan hati kita.

Terakhir, mengutip perkataan Rully Prasetya (Mahasiswa Berprestasi Nasional 2011), “Kedekatan kita dengan Quran adalah refleksi kedekatan kita dengan Allah.”

“Siapa mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta, Siapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan siapa yang mendekat kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari-lari kecil.” (HR Muslim)

Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan dalam beramal shalih, senantiasa dekat dengan Allah melalui Quran, dan diperkenankan menjadi “keluarga Allah” di dunia dan akhirat, serta mendapatkan husnul khatimah.
=======================

Penulis: Abdul Aziz
Fak. Kesehatan Masyarakat UI 2010
Santri Tahfizh Smart 3

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>