Alarm Kebaikan

24
Sejak aku memutuskan untuk mulai memasuki ruangan itu, saat itulah aku harus bersiap untuk mendengar banyak alarm. Suara alarm yang akan terdengar begitu berisik di telingaku. Sesekali, mungkin aku tak mau mendengarnya. Namun, karena terlalu banyak alarm yang berbunyi dengan suara yang sama di sana, mau tidak mau aku harus terbangun dan menuruti inginnya untuk tidak tidur lagi. Ya, dialah sahabat terbaik yang selalu menjadi pengingat agar aku segera terbangun dari tidurku.

Ada sesuatu yang mendorongku untuk memasuki “ruangan-penuh-alarm-berisik” itu. Dorongan yang diberikan hanya kepada sebagian manusia dengan setengah sadarnya merasa ingin terbangun dari tidur panjangnya. Seseorang yang setengah sadar merasa bahwa tidur terlalu lama tidaklah baik bagi dirinya. Tidur terlalu lama akan melumpuhkan jantungnya, melemahkan tubuhnya, dan membuat kepalanya terasa berat serta tidak mau bangun lagi, kemudian mati dalam tidurnya.
Ah, sungguh aku begitu beruntung kerena telah diberikan dorongan untuk memasuki ruangan penuh alarm meski dengan setengah sadarku. Berharap aku tidak akan menjadi seseorang yang “lumpuh” jantungnya karena terlalu banyak tidur.

Kamu mau tahu apa yang membuatku terbangun? Mari kuceritakan apa yang terjadi padaku. Aku terbangun setelah mendengar seseorang membaca kalimat ini, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”. Awalnya, aku tak mengerti apa maksudnya. Dengan setengah sadarku, aku berpikir apa aku sedang dalam kerugian saat ini kawan?

Kuhampiri orang itu kemudian bertanya. “Apa maksud dari kalimat yang kamu baca tadi?

“Ya, semua manusia sedang diingatkan Tuhan bahwa mereka sedang berada dalam kerugian. Kamu yang hanya bisa tertidur, dan larut dalam buaian mimpi-mimpi yang tak nyata, tak akan pernah mendapatkan akhir yang baik—kami biasa menyebutnya denga khusnul khatimah. Dengan terus tertidur ditemani bunga-bunganya, kamu telah membuang banyak waktu untuk mempersiapkan bekal.”

“Bekal untuk apa? Memang kita mau ke mana?”

“Kamu pikir hidup kita hanya ada di sini? Dunia yang kita pijak saat ini bersifat sementara. Jika kamu pernah mendengar tentang akhirat, nah, itulah kehidupan kekal yang sesungguhnya. Dan saat inilah waktunya kita mempersiapkan bekal untuk mendapatkan akhir yang baik di kehidupan akhirat kelak.”

“Lalu apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan apa tadi kamu bilang? Khus. . . khus. .. apa?”

“Khusnul kahtimah . . .Sederhananya, yaaa . . . akhir yang baik . . . lebih tepatnya kematian yang tidak sia-sia dan berakhir di surga.”

“Ya, apalah itu. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Bangunlah . . . Berimanlah . . . beramal salehlah . . .”

“Bagaimana caranya?”

“Ah, sepertinya aku harus mengajakmu pergi bersamaku. Kamu harus bertemu dengan orang-orang yang sudah terbangun dan mulai beriman dan beramal saleh.”

Aku masih setengah sadar, namun tetap berjalan ragu mengikutinya. Sesampainya di tempat itu, semua mata tertuju padaku. Saat pintu terbuka, mereka menoleh ke arahku. Aku menjadi pusat perhatian sebab berpenampilan paling aneh sendiri. Ya, dikatakan aneh karena aku minoritas di antara mayoritas, sehingga terlihat aneh sendiri. Itu saja. Mungkin jika salah satu dari mereka kuajak ke tempat lamaku, dia yang akan terlihat aneh. Ini hanya soal bagaimana penampilan kita ketika berada di mana. Hal ini tak terlalu menjadi masalah karena mereka semua menerima kehadiranku dengan senyum yang ramah, tatapan santun, dan tutur kata yang baik.

Awal memasuki ruangan itu, aku sudah terkesan. Namun, aku tetap tak mau terlalu cepat percaya. Bisa saja mereka adalah si jahat dengan kedok si baik. Dia yang membawaku, berkata padaku, “Bersiaplah, saat kamu telah menjadi bagian dari ruangan ini, kamu akan mendengar banyak alarm berisik.” Mari kita lihat. Mampukah mereka mempengaruhiku. Seberapa keras, sih, suara alarmnya. Seberapa pengaruhnya mereka bagi hidupku.

Benar saja, di awal aku tidak tahan. Mereka berisik sekali. Banyak sekali aturan di sini. Aku bosan mendengarnya, namun untuk kembali pada kehidupanku di masa lalu pun aku tak mau. Aku tak mau menjadi manusia merugi karena terlalu banyak tidur. Akhirnya, aku hanya perlu merelakan telingaku mendengarkan ocehan seperti ini, kemudian menimpali semauku.

Alarm 1: “Hei, Nona, bukan begitu caranya.”

Aku: “Kenapa?”

Alarm 2: “Hei, taruhlah itu di tempat yang benar.”

Aku: “Euukkh, cerewet.”

Alarm 3:  “Lakukan itu dengan benar, atau kamu akan terluka.”

Aku: “Kenapa tidak kamu biarkan saja aku melakukannya semauku, hah?”

Alarm 4: “Taruh benda itu di tempat yang benar atau kamu akan terjatuh karena ulahmu sendiri.”

Aku: “Issshhh, di tempat ini aku tidak bebas, terlalu banyak aturan.”

Di ruangan ini, banyak sekali alarm yang memberiku banyak aturan. Sesekali, aku ingin membangkang dan tak mempedulikan aturan yang mereka teriakan kepadaku. Namun benar saja, aku kena batunya. Aku ‘terpeleset’ karena ‘sembarangan menaruh kulit pisang.’ Kupikir si alarm akan tertawa mencemooh ketika aku terjatuh—seperti teman-temanku di masa lalu. Tapi pada kenyataanya tidak, raut wajahnya pilu melihatku. Kemudian, dia menghampiri dan berusaha membantuku untuk berdiri, membalut lukaku kemudian berkata, “Bukankah sudah kubilang kamu akan terjatuh jika kamu tidak patuh.” Aku malu, namun tak berani mengakuinya. Aku pergi meninggalkannya. Meski aku selalu membangkang, alarm-alarm itu tak pernah meninggalkanku dan setiap hari dia tetap memberitahuku aturan-aturan membosankan itu.

Karena kesal, aku bertanya pada alarm yang dulu membawaku masuk ke ruangan ini.

Aku: “Kenapa kamu peduli? Bukankah ketika aku terjatuh yang sakit adalah aku, bukan kamu.”

Alarm: “Karena Tuhan mengingatkan kami pada ayat selanjutnya.”

Aku: “Aku lupa. Coba ingatkan aku lagi dari ayat pertama.”

Alarm: “Kamu masih ingat kalimat yang kamu tanyakan padaku? Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Nah, kemudian aku mengatakan lagi padamu, kan, Berimanlah . . . beramal salehlah . . . sebab di ayat berikutnya Tuhan—kami biasa memanggil dzat Yang Maha Kuasa dengan panggilan Allah. Ya, sebab Allah mengingatkan lagi di ayat terakhir, . . . kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh (mengerjakan kebaikan) . . .”

Aku: “Hanya itu, kan? Pesan itu ditunjukkan personal pada hamba-Nya, bukan? Jadi, beriman atau tidak itu urusanku, bukan lagi urusanmu.”

Alarm: “Oh, tentu tidak, ayat ketiga tak berakhir hanya sampai di situ. Masih ada lanjutannya.”

Aku: “Apa?”

Alarm: “. . . serta saling menasihati untuk kebenaran. Dan saling menasihati untuk kesabaran.” Dia menoleh ke arahku yang tertunduk diam. “Kini kamu paham mengapa aku bertahan di dekatmu? Aku tak perlu menjelaskan lagi apa maknanya, bukan?”

Aku masih saja terdiam.

Alarm: “Karena kamu telah memasuki ruangan ini dan mengenal kami. Kamu telah menjadi bagian dari kami. Kami memang tidak merasakan sakit yang kamu rasakan ketika kamu terjatuh. Hanya saja, hati kami sakit melihat keluarga kami terluka karena telah salah langkah. Kami peduli karena kami melihatnya. Melihat saudara kami terjatuh tepat di depan mata kami.”

“Di ruangan ini, semua harus menuju satu tujuan yang sama, tujuan bahagia yang akan diraih dengan menuruti aturan-aturan yang sejatinya ada untuk dirinya sendiri. Aturan yang akan menyelamatkan dirinya menghadapi ujian besar di depan sana. Bukankah kamu sudah tahu sejak dulu bahwa setelah kehidupan di dunia ini masih ada lagi kehidupan yang kebih kekal? Di sanalah, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan selama hidup di dunia.”

“Inilah ruangan yang telah kamu masuki. Di ruangan inilah kami saling mengingatkan kebaikan. Saling memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Setiap dari kami adalah alarm, dan kami akan siap menjadi alarm bagi yang lainnya. Begitulah cara kami saling mengingatkan tentang kebaikan. Saat menemui seseorang yang tak kunjung paham, di situlah kami harus bersabar dalam mengingatkan kebaikan. Kami menamakan diri kami alarm kebaikan. Dan karena kamu telah masuk di ruangan ini, bersiaplah akan banyak alarm yang berbunyi  untukmu, terlebih ketika kamu tidur terlalu lama.”

Aku: “Ish . . . kamu ini banyak  sekali bicara.”

Raut mukaku memang terlihat tidak senang. Itu bukan karena aku tidak terima dengan yang dikatakannya, tapi hanya karena aku gengsi untuk mengakuinya. Mengakui bahwa aku sudah mulai menikmati aturan yang ada. Aku sadar keputusan awal yang kuambil dengan setengah sadar adalah keputusan yang benar. Kini, telingaku sudah siap dengan alarm kebaikan yang akan sering kudengar setiap harinya.

Alarm: “Oh, ada satu lagi,” alarm menghampiriku.

Aku: “Apa lagi?” Jawabku ketus.

Alarm: “Alarm akan berhenti berdering ketika kamu telah mematuhi semua aturannya. Alarm akan berhenti berbunyi ketika kamu bangun tepat waktu.”

Aku: “Ya, baiklah, terserah kamu saja.”

Dia berlalu. Kemudian, aku semakin bersyukur berada di dekatnya.

(Wini Nurhanifah/Santri TS 4)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>