Gemirang Habituasi Santri Penghafal Quran

IMG_20141008_065404

Habituasi, itulah kata yang pertama kali kudengar saat matrikulasi (semacam ospek) kala awal masuk di Tahfizh Smart 2. Sebagaimana kata “Man Jadda Wajada” pada orientasi di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, habituasi senantiasa ditanamkan lekat-lekat pada para santri baru Indonesia Quran Foundation (IQF).

“Semua diatur dalam Islam, hingga hal terkecil pun. Lengkap bukan Islam itu?”

Qiyamullail, shalat dhuha, one day one juz, dan lain sebagainya untuk babruhiyah (spiritual). Kebersihan diri dan lingkungan, kerapihan asrama, kesehatan santri, hingga sandal pun diatur dalam bab jasadiyah saat matrikulasi ini.

“Kita sepakati, semua sandal menghadap keluar dan tertata rapih saat kita memasuki ruangan apa pun di asrama kita. Ini gambaran bahwa Islam itu mengajarkan kerapihan bahkan dalam hal kecil sekali pun.”

Aku ingat persis kala itu, setiap pagi setelah selesai Quran Time (QT) santri selalu dikumpulkan dalam apel pagi. Supervisor melalui ketua kelompok halaqah, menanyakan kondisi ruhiyah dan jasadiyah kami satu persatu. Semua jelas terlihat siapa yang meninggalkan shalat jama’ah, siapa yang meninggalkan qiyamullail, siapa yang shalat tanpa kopiah, hingga siapa yang sandalnya tidak menghadap keluar. Pun sebaliknya, siapa yang rajin jama’ah, yang pakaiannya rapih saat shalat dan Quran Time, dan lain sebagainya, akan jelas terlihat dan “bersaing” ketat untuk menjadi “Santri of the Month”.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
Berlandaskan pada QS: Az-Zalzalah 7-8 itu, maka setiap pelanggar akanmenerima iqabnya (hukuman) masing-masing. Supervisor memang jago dalam menghubungkan ayat dan penerapannya ke santri. Hehe.

Tahfizh Smart 2 berlalu digantikan program ter-update Indonesia Quran Foundation, yaitu Tahfizh Smart 3 dengan punggawa yang ‘semi baru’ (karena ada beberapa yang keluar dan sebagian lagi melanjutkan dari TS 2 ke TS 3). Ternyata Tahfizh Smart 3 lahir dengan transformasi habituasi yang lebih dasyat—setidaknya bagi aku. Siapa yang meninggalkan qiyamullail sekali, maka dia akan menginap di mushalla dan dilarang bermalam di ‘barak’ (tempat tidur IQF yang terdiri dari ranjang yang berjejer panjang dalam satu ruangan, mirip barak) asrama.

“Qiyamullail itu nafasnya para penghafal Quran, Saudaraku. Ia adalah pelengkap dalam kemesraan kita bersama Allah. Ia adalah wasilah dalam murajaah kita, dalam interaksi kita bersama Quran. Maka nikmatilah itu!”

Itu baru meninggalkan qiyamullail. Ketika santri meninggalkan shalat shubuh berjamaah, maka konsekuensinya pun lebih mantap, menginap di mushalla untuk sepekan ke depan. Luar biasa bukan? Hehe. Ada lagi habituasi yang coba ditanamkan pada santri IQF yakni larangan tidur ba’da shalat Shubuh. Siapa yang terlelap, atau terkantuk sedikit lebih lama saat dzikir pagi, maka dia akan berdzikir ria di pagi berikutnya dengan berdiri, di hadapan semua santri pastinya. Awalnya berfikir, ‘badai’ juga nih asrama. Namun, setelah waktu berputar cukup lama, sekira habit sudah mulai tertanam, maka semua terasa berjalan begitu nikmat. Hampir setiap hari di sepertiga malam terakhir, asrama mendadak ramai dengan suara dengungan murajaah baik dalam kondisi shalat maupun murajaah di luar shalat. Tak jarang sesenggukan tangis terdengar bersumber dari beberapa santri yang terengah karena tangis yang meledak saat bermuhasabah. Atau muka-muka penuh penghayatan dari para santri yang sedang bercengkerama dengan ayat Rabbani. Kalaupun sesekali khilaf, kami push up bareng, sit up ramai-ramai, juga dengan hukuman lainnya. Semua enjoy dilakukan! Karena lillah tak kan jadi lelah. (:

Hal yang lebih ‘menantang’ datang beriringan dengan datangnya bulan penuh berkah, Ramadhan Mubarak. Di bulan tersebut, habituasi kebaikan lebih digenjot lagi. Amalan yaumiyah (ibadah harian) kian padat di bulan yang setiap amalannya akan dibalas berkali-kali lipat oleh Allah. Hari dimulai dengan berbuka saat Magrib datang. Para santri berkumpul untuk membatalkan shaumnya hari itu. Sebagian besar santri hanya mengisi perut dengan air minum dan sedikit takjil tanpa menu makan besar karena ini akan berpengaruh pada stamina tubuh, mata khususnya, dengan aktivitas lanjutan. Hehe. Setelah itu kegiatan dilanjut dengan shalat tarawih berjamaah di mushalla “Baab As Salam” IQF dengan bacaan Quran setengah juz. Quran Time malam dilanjut setelahnya hingga pukul 22. Malam terus berputar dengan kegiatan harian masing-masing santri hingga sampai pada qiyamullail berjamaah yang dimulai pukul 3 pagi dengan bacaan Quran setengah juz selanjutnya. 1 (satu) juz permalam saja kaki sudah lumayan pegel, namun masih sehat. Belum bisa kubayangkan bagaimana dasyatnya qiyamullail hingga kaki bengkak, layaknya Rasulullah. Betapa pasti beliau melakukan shalat itu dengan amat khusyuk, hingga bengkak pada kaki pun beliau tak merasakannya. Sahur bersama diiringi canda ala santri menjadi momen istimewa terlebih setelah satu juz semalam yang membuat semangat makan makin melonjak.

Kegiatan berlanjut shubuh berjamaah dan dzikir pagi serta kajian singkat. Setelahnya, Quran Time pagi berjalan hingga pukul 8 pagi, saat matahari sudah sepenggalah naik. Ini salah satu Quran Time dahsyat yang cukup menguras konsentrasi dan energi. 150 menit bercengkerama dengan Quran. Mulanya, banyak santri gugur dalam “pertempuran” ini. Namun kelamaan, berkat habituasi yang baik, hal ini malah menjadi sumber penyubur jiwa. Hal yang aku nikmati adalah ketika bersama memanjatkan doa ba’da ber-Quran.

“Ya Allah, ingatkanlah hamba bila ada ayat yang hamba lupa mengingatnya. Ajarkan pada hamba, ayat yang hamba bodoh memahaminya. Karuniakan kepada hamba kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam mau pun tengah hari.”

Selain habituasi satu hal yang aku gemari dari Indonesia Quran Foundation (Asrama pusat, Depok) yakni lingkungan; baik sosial maupun alam. Ia yang mengelilingi kita, menggelayuti kehidupan kita, dan setia berada di samping kita. Malas dan jenuh, itu suatu kepastian dalam sebuah perjalanan panjang ini. Namun ketika rasa itu mendera, ia akan dengan sendirinya mencambuk dan menggugah diri kami. Ketika jenuh melanda, dengan sendirinya jiwa akan kembali bersemangat ketika melihat kerumunan kawan kita sedang begitu bersemangat menghafal. Ketika lelah mulai menyerang, ia akan dengan sendirinya menghilang ketika mendengar lantunan ayat Ilahi bersaut ria melantun mesra dilantun para santri lain. Siapa yang tak iri dan tergugah semangat ber-Quran ketika melihat kawan-kawan kita disibukkan interaksi dengan Quran. Atau pertanyaan-pertanyaan nyeleneh yang sangat menggugah,

“Antum sudah berapa juz, Bro?”

“Kapan tes juz?”

Dan seterusnya. Kadang sebal dengan pertanyaan seperti itu, lagi susah-susahnya ngafal,ehsitu nyeleneh. Tapi mau tak mau, ada saat ketika pertanyaan itu menjadi penyemangat luar biasa bagi santri.

Kehidupan bak desa yang asri dengan udara segar mengelilingi atmosfernya, suara gemericik air dan kicauan burung nan permai, tergambar jelas di asrama Indonesia Quran Foundation. Alam begitu bersahabat. Ciliwung nan sejuk setia menemani para penghafal Quran dalam kesehariannya. Menentramkan mata ketika melihat pepohonan rindang di sekelilingnya. Mendamaikan jiwa kala mendengar gemercik air yang mengalir di tubuhnya. Semua itu membuat hati lebih tenang dan amat membantu dalam proses menghafal santri, termasuk aku di dalamnya. Kondisi ini mengingatkanku akan tempat nan jauh di sana, tempat dibesarkanku oleh bunda. Mengingatkanku akan harapan ayah bunda padaku. Mengingatkan akan impian yang pernah kurenungkan. Mengingatkan akan diriku yang tumbuh tanpa bakti yang berarti pada kedua orangtuaku. Dari situ seringkali aku teringat tujuan bergabung dalam asrama Quran penuh berkah ini, yang tak jarang kembali membangkitkan tekad perjuangan. Salah satu tujuan terbesarku, selain mendapat ridha Allah pastinya, adalah memasangkan makhkota di atas kepala kedua orangtuaku, jua memakaikan jubah surgawi yang penuh kemuliaan pada beliau berdua. Ini adalah suatu tujuan besar dalam perjalanan jiwaku yang bisa diperoleh dengan menjadi “Penjaga Quran”.

Sungguh, jikalau banyak dari kita yang bisa berbakti kepada ayah bunda setiap hari, meng’iya’kan setiap perintah beliau berdua, mencium tangan dan memeluk erat ketika kita hendak keluar rumah, atau menuruti keinginan beliau berdua, maka sungguh aku tak bisa melakukannya setiap hari. Jarak yang terbentang jauh menjadikanku belum bisa memaksimalkan bakti pada ayah dan bunda. Maka sungguh amat bersyukur bagi kita yang bisa berbakti kepada ayah bunda sembari kuliah, mengaji, berkarya, ataupun lainnya. Maka bergabungnya diriku pada Indonesia Quran Foundation semoga menjadi wasilah (sarana) untuk sebuah bakti yang besar pada ayah bunda di akhirat kelak. Aamiin ya Rabb.

“Ya Allah, dengan Quran karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikanlah Quran sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami. Aamiin”

(Fahrudin Alwi/ Sastra Arab UI 2013/Santri TS 3)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>