Jangan Berhenti Belajar Quran

dokumentasi iqf
Dokumentasi IQF

Al-Qur’an yang sejatinya adalah Hudan lil muttaqin selalu berusaha aku pelajari karena mempelajari Al-Qur’an adalah tentang pembelajaran seumur hidup, bahkan mempelajarinya tidak bisa dikuasai hanya dalam batas umur kita. Maka pelajarilah Al-Qur’an sedini mungkin, sebelum terlambat, sebelum engkau menangis terisak karena pernah meninggalkannya dalam waktu yang sangat lama. Dengan Al-Qur’an pula kita akan semakin memaknai kehidupan, waktu, dan Allah itu sendiri. Kurang lebih hikmah itulah yang aku dapat dari beberapa kisah yang akan kuceritakan ini.

Kisah pertama,

Sore itu aku bersama tujuh teman lain dan seorang guru sedang duduk meriung memuraja’ah hafalan kami. Tak lama kami memulai, datang seorang wanita paruh baya, teman guru saya. Usianya mungkin sekitar 45-50 tahun. Ia menghampiri kami dengan parasnya yang berseri dan tarikan senyuman lebar. Rupanya beliau adalah teman dekat guru kami. Ibu A, saya menyebutnya. Rupanya ia sangat antusias dengan yang sedang kami lakukan, cukup lama beliau memerhatikan kami yang sedang berusaha mengingat-ingat setiap kalimat Allah. Setelah kami selesaikan muraja’ah, guru kami pun memperkenalkan beliau pada kami begitu pun sebaliknya, guru kami memperkenalkan kami pada ibu A. Di tengah-tengah pembicaraan, sang ibu A menyatakan sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Kurang lebih seperti ini,

“Adek-adek bersyukur ya udah belajar Al-Qur’an dari umur segini. Kalo saya mah aduh ya.. dulu pas muda ngebuang waktu banget deh, bener deh saya nyesel.” Air muka beliau seketika berubah, matanya mulai berkaca-kaca.

“Ih, rasanya nyesel banget deh bener, saya rasanya mau nangis. Dulu menyia-nyiakan waktu. Pengen muda lagi deh beneran..” tandasnya sambil menyeka air mata yang mulai keluar dari ujung kedua matanya.

Aku bisa melihat dengan jelas raut wajahnya yang menunjukkan kekecewaan dan penyesalan mendalam atas apa yang tidak ibu itu lakukan di masa mudanya.
Aku terdiam, ingin ikut menangis. Tapi aku hanya berusaha tersenyum di depan beliau sambil berpikir bahwa aku baru saja mendapatkan nasihat dari Allah untuk kehidupanku setelah ini.

Itu tadi kisah pertama, kisah yang tidak akan aku lupakan seumur hidup. Biidznillah.

Kisah kedua ini juga memberikan banyak sekali hikmah yang bersangkutan dengan Al-Qur’an.

Ba’da Ashar di Masjid At-Tin, Alhamdulillah aku diberi kesempatan oleh Allah untuk belajar tahsin langsung dengan seorang syekh dari Tanah Arab. Nama beliau adalah Syekh Abdullah.

Dengan sebuah mikrofon, aku melantangkan bacaan Al-Kahfi di depan puluhan jama’ah sore itu, sama seperti ibu-ibu sebelumku yang juga diminta untuk melakukan hal yang sama. Alhamdulillah kesalahan makhraj dan tajwidku tidak banyak rupanya menurut Syekh Abdullah.

Seusai belajar tahsin, aku  baru hendak melanjutkan kegiatan lain sebelum sesaat sebuah tepukan di bahu kananku – membuatku sedikit terkejut.

“Alhamdulillah dek,” kata sebuah suara yang sedikit serak dengan logat Jawa Tengah yang kental, sontak langsung aku menoleh pada sumber suara. Rupanya seorang nenek, yang usianya mungkin sekitar 60-70 tahun. Ia mengajak aku untuk bersalaman.

“Dek, tadi bagus banget bacaannya, ajari saya ya dek,” ia langsung memeluk, aku kaget.

“Ajari saya ya dek, bacaan saya masih jelek sekali,” katanya sambil mengelus-elus tanganku. Raut wajahnya menunjukkan rasa haru sekaligus sedikit kesedihan.

“Alhamdulillah bu, saya juga masih belajar ini bu,” aku nyengir dan sedikit linglung mengapa Ibu ini se-begitunya dengan bacaanku, padahal jujur ibu-ibu yang tahsin bersama saya sebelumnya jauh lebih jago.

“InsyaAllah ya bu saya coba nanti dikit-dikit, memang Ibu nggak bisa dimana Bu?”

“Tajwid saya masih jelek sekali dek,”

Ibu itu kemudian bercerita langsung, usianya kini 67 tahun-an. Beliau bilang ia baru mulai mempelajari membaca Al-Qur’an saat usianya 60 tahun. Ia mengaku sedang belajar dengan seorang guru ngaji yang rutin ia lakukan setiap hari Selasa.

“Saya sedih dek baru belajar, dulu waktu saya masih muda, belajar ngaji itu sulit sekali dek, harus jalan 6-7km buat sampai ke tempat ngajinya. Itu juga kadang kalo saya dateng, guru ngajinya udah pulang main bola. Jadi sulit sekali dulu. Baru-baru aja ini saya ini belajarnya”

Aku merenung beberapa detik dengan perkataan yang ia sampaikan.

“Ibu juga coba belajar artinya?” tanyaku penasaran,

”Saya mah udah mau belajarnya ini aja, tajwid dulu aja, yang lain mah udah nggak usah”

“Oh begitu bu..”

Setelah bercakap cukup lama, akhirnya beliau membaca surat Al-An’am yang katanya sangat ingin ia baca terus-menerus. Ketika beliau membaca satu sampai dua ayat, aku terkejut ternyata bacaannya lebih baik daripada yang kubayangkan. Beliau kelihatan terengah-engah setiap membaca 4-5 kata, nafasnya tidak kuat. Walau begitu, aku sangat kagum dengan semangat belajar beliau yang tinggi. Ia bersikeras menghafalkan hukum tajwid seperti idghom, ihkfa, mad wajib, dll  yang sangat banyak aturan mainnya.

“Kalo ada yang salah, langsung salahin saya aja ya dek,” Katanya sambil menunjuk sebaris ayat dalam Al-Qur’an yang tidak ada terjemahnya itu.

“Iya bu,”

Itu adalah kisah kedua yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup sampai Allah berkehendak lain.

Begitu melekat makna dari kedua kisah ini bagiku. Rupanya Allah ingin menyampaikan pesan-Nya melalui dua kisah ini padaku dan kamu agar tidak berhenti untuk mempelajari Al-Qur’an. Benar jika dimaknai secara mendalam bahwa mempelajari Al-Qur’an dari kecil pun tidak cukup, apalagi nanti ketika sudah tua. Pun belum tentu kan usia kita sampai pada usia tua.

Jangan tinggalkan Quran!

“Pun ketika kita sudah menginjak usia tua, pasti lebih memikirkan persiapan untuk kematian ketimbang pekerjaan, harta dan lain-lain”

“Ilmu Allah itu banyaknya tak terhingga, kapan mau mulai mempelajarinya?”

“Mau tunggu tua untuk dekat sama Allah melalui Qurannya?”

(Maharhanie Septi N./Arsitektur Interior FT UI 2011/Santri TS 2 & 3)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>