Cerita Santri TS 4

Seperti apa kau menghargai waktu?

Menikmati hari demi hari yang berganti, jam demi jam yang terlewatkan, menit demi menit, bahkan hingga setiap detik. Seperti apa kau menghabiskan karunia yang ALLAH berikan sama banyaknya untuk umat manusia selama berada di dunia, yaitu waktu 24 jam dalam sehari, 60 menit untuk satu jam, 60 detik untuk satu jam? Tak lebih. Tak kurang.

Ini kisah tentang mereka. Mereka yang tak cuma membiarkan waktu mengalir begitu saja. Ini sedikit cerita tentang mereka. Santri tahfizh smart empat. Kebanyakan mereka mahasiswa. Bukan sembarang mahasiswa. Mereka mahasiswa dengan segala aktivitas akademiknya. Mulai dari mengerjakan tugas harian hingga skripsi. Akan tetapi mereka tetap berusaha untuk terus menghafal Quran di tengah-tengahkegiatan-kegiatan hariannya itu. Atas izin dan pertolongan Allah, banyak yang masih bisa berprestasi, berorganisasi, berwirausaha, juga konferensi sampai keluar negeri. Mereka terus saling berlomba, saling menyemangati, sampai kelak Quran bisa benar-benar merasuk ke dalam hati, juga menjadi syafaat di yaumul akhir kelak.

Sebut saja dia Achy. Achy adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2013. Di tengah kepadatan akademiknya sebagai mahasiswa kedokteran dan organisasi kampus yang diikutinya, Achy memutuskan untuk bergabung dalam program tahfizh smart empat.

Zikry panggilannya. Mahasiswa jurusan Sastra Inggris Universitas Gunadarma ini punya profesi takbiasa dengan titelnya sebagai mahasiswa, yaitu sebagai model dan salah satu aktor film islami. Zikry merupakan santri tahfizh smart tiga, dan turut menjadi bagian dari santri tahfizh smart empat. Memiliki prestasi sebagai karateka prov aceh, silat kabupaten ,dan juara lukis provinsi. Bercita-cita sebagai pengusaha, diplomat, danfotographer yang tentunya hafizh Quran.

Itu hanya sedikit kisah dari santri tahfizh smart empat. Masih tersisa 54 santri tahfizh smart empat dengan berbagai keunikan dan keunggulan yang mereka miliki. Mimpi mereka sama. Menjadi bagian dari generasi intelektual penghafal Quran. Terbentukya generasi penerus yang tidak hanya memiliki kompetensi intelektual, namun juga memiliki kedekatan dengan Allah melalui Quran yang merekahafal, pelajari, dan amalkan.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>