Dia Memilih Mereka Yang Menikmatinya Dengan Hati

Alhamdulillah, atas rahmat dan anugrah-Nya rasa takjub selalu muncul tersendiri manakala melihat mereka yang sedang membaca Al-Qur’an kemudian berazam untuk istiqomah membacanya, karena mereka sedang berlatih untuk mendapatkan beribu kebaikan dari setiap ayat yang diabacanya. Walaupun terbata-bata, tapi mereka tidak berhenti berlatih untuk mencapai derajat tartil sesuai bacaan Rasulullah SAW. Kemudian, mereka mentadabburi ayat demi ayat sampai bibirnya tersenyum atau kadang matanya menangis ketika berulangkali membacanya.

Tidak berhenti sampai disitu, berlanjut pada proses menghapalnya sampai khatam. “Khatam”. Ya khatam, khatam menghapal satu ayat, hatam menghapal satu surat, khatam menghapal satu juz, atau bahkan khatam menghapal 30 juz. Tapi itu bukanlah akhir dari perjuangan. Justru khatam itulah yang mengawali perjuangan sesungguhnya dalam proses implementasi setiap pesan dari ayat yang kita hapalkan, sehingga mereka yang mengimplementasikan akan menjadi manusia pilihan yang mendapat kenikmatan di setiap kalam-Nya seolah Allah sedang berinteraksi dengan mereka. Setelah itu, mereka tidak ingin memendam rasa nikmat itu sendirian. Lalu mereka bagikan kepada orang lain tanpa mengurangi kelezatan dari setiap nikmat yang telah mereka dapatkan, tanpa menghadirkan kesombongan karena telah merasakan kelezatan tersebut, juga tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka yang diajarkannya.

Jika dianalogikan dengan perang, proses ini bisa dikatakan sebagai masa pertempuran setelah berlatih sampai berdarah, memahami gerak musuh di setiap situasi dan kondisi, menyusun strategi canggih, dan akhirnya bertempur menikmati hasil proses tersebut dengan mahir. Namun, dalam pertempuran itu bukan berarti mereka menikmati kemahirannya tanpa perjuangan. Justru musuh selalu mempelajari celah demi celah dimana mereka lelah dan mengintainya tanpa henti hingga kepala nya terpenggal, tangan nya terpotong, atau mungkin berkahir dalam keadaan dada dibelah musuh bahkan hatinya dimakan layaknya Hamzah bin Abdul Muthalib. Hingga akhirnya ia syahid.

Sempurna sekali. Jika proses dan hasil tersebut kita dapatkan. Namun, sepertinya hingga saat ini masih jauh dari kata sempurna, masih jauh dari tahap implementasi ayat demi ayat yang sering dilantunkan. Tapi jika teringat firman-Nya “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”membuat hati seperti tersiram air disaat terbakar api yang sangat panas, seolah ayat itu berkata: “Sungguh ingkar kau, niat baik untuk membaca Al-Qur’an saja sudah anugrah, kenapa tidak kau ucapkan Alhamdulillah dan kau nikmati? karena diluar sana, yang tidak dianugrahkan niat sekalipun sangat banyak”.

Setiap proses dan tahapan tersebut tentutidak akan pernah bertahanjika tidak disertai hati, hati yang hanya tertuju pada-Nya, hati yang selalu berusaha tidak mendatangkan ujub, takabur, riya, sum’ah, apalagi hati yang tidak menerima nikmat yang telah diberikan-Nya.

Itulah kuncinya-hati. Hati yang selalu terpaut pada sang pemilik hati. Tapi bukan berarti hati yang tidak bersih tidak menjadi pilihannya dan tidak mendapatkan nikmatnya interaksi dengan Al-Qur’an. Cobalah undang ia, hadirkan ia, karena fitrahnya ia akan menerima setiap kebaikan yang dilakukan, akan merenung ketika mengingat setiap dosa yang pernah dilakukan dan akhirya menangis menyesal walaupun terkadang kembali melakukannya. Karena itulah hati, sering terbolak-balik. Maka jagalah ia, ajaklah ia bersama mencari beribu kebaikan dalam setiap ayat-Nya, memaknai setiap pesan yang disampaikan oleh kalam-Nya, dan sertakan ia dalam mengimplementasikan apa yang disampaikan oleh kalam-Nya. Rasulullah telah mengingatkan kita tentang hati dalam hadits ke-7 kitab Arba’in An-nawawi “Ketahuilah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh pun baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (Bukhari dan Muslim)

Maka, nikmatnya membaca Al-Qur’an akan terasa manakala hati kau hadirkan sampai khusyu menghampiri. Jika ia sakit dan tak mampu kau hadirkan, maka obatilah hatimu dengan Al-Qur’an. Imam Hasan Al-Bashry berkata “Obati hatimu, karena yang dikehendaki Allah dari hamba-Nya adalah kebaikan hatinya.”

Referensi:

Al-Quranul Kariim

Imam Nawawi, Syarah Arbain An-Nawawi. 2006. Darul Haq. Jakart.

Al-bugho dan Mitsu, Al-wafi menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah saw. 2011. Al-I’tishom. Jakarta.

(Een Nurhasanah)

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>