Memaknai Tauhid Melalui Tafsir Surah Al Ikhlas

Sebab Turunnya dan Keutamaan Surah Al Ikhlas

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’abbahwa orang-orang Musyrik pernah berkata kepada Nabi, “Hai Muhammad, terangkanlah kepada kami nasab Rabbmu!” Maka Allah menurunkan surah ini menanggapi pernyataan tersebut.قل هو اللّه احد اللّه الصّمد لم يلد و لم يولد و لم يكن له كفوا احد artinya, “Katakanlah, Dia lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang kepadanya bergantung segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya.”

Salah satu keutamaan dari Surah Al Ikhlas adalah ia setara dengan isi 1/3 dari Al Quran (HR. Muslim). Para ulama menyebutkan bahwa kandungan Al Quran dibagi ke dalam 3 aspek , yaitu 1) Aqidah, 2) Ibadah, dan 3) Mu’amalah. Surah Al Ikhlas mencakup 1/3 dari inti daripada Al Quran, yaitu mengenai Aqidah Islam seorang Muslim. Meskipun demikian, apabila kita membaca surah ini bukan berarti sama saja dengan kita telah membaca 1/3 dari Al Quran, melainkan kita telah membaca surah yang kandungan maknanya mewakili 1/3 dari kandungan Al Quran, yaitu mengenai aqidah, mengesakan Allah semata.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang pada suatu pasukan. Kemudian ia membaca surah dalam shalat pada para sahabatnya dan ia selalu tutup dengan surah Al Ikhlas. Ketika kembali, mereka menceritakan perihal orang tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Tanyakan padanya, kenapa ia melakukan seperti itu?” Mereka pun bertanya pada orang tadi, ia pun berkata, “Karena di dalam surat Al Ikhlas terdapat sifat Ar Rahman (sifat Allah) dan aku pun suka membaca surat tersebut.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Katakan padanya bahwa Allah mencintainya.” Hadits ini merupakan salah satu hadits yang menunjukkan keutamaan dari Surah Al Ikhlas, bahwasanya siapa yang mencintai surah ini, Allah pun mencintainya.

Tafsir Per Ayat

١. قل هو اللّه احد
1. Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa.

قل: Katakanlah
احد: Maha Esa (satu-satunya)

Pada ayat ini, kata yang digunakan adalah قل yang merupakan kata perintah, artinya ‘Katakanlah’. Ayat ini juga mendeskripsikan keesaan Allah dengan kata احد, bukan واحد. Dalam bahasa Arab, kata احد bermakna ‘satu-satunya’, sedangkan واحد bermakna ‘satu’. Penggunaan kata واحد memungkinkan bahwa ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Ayat ini, dengan kata احد menekankan bahwa Dialah Allah Tuhan Yang Satu, Yang Esa, Yang tiada tandingan-Nya, tiada lawan-Nya, tiada yang serupa dengan-Nya, dan tiada yang setara dengan-Nya. Lafaz ini tidak boleh dinisbatkan terhadap seseorang kecuali hanya Allah SWT satu-satunya.

٢. اللّه الصّمد
2. Allah tempat meminta segala sesuatu.

الصّمد: yang ditujukan dan dijadikan tempat bersandar

Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah :

الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِم

Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan. Dia lah tempat meminta segala sesuatu, tempat kita berlindung, yang tidak melahirkan dan juga tidak dilahirkan.

من تعلق شئ وكل اليه

Barangsiapa menggantungkan dirinya pada sesuatu, maka Allah akan menyerahkan dirinya pada sesuatu tersebut. Akan tetapi barangsiapa menggantungkan diri pada Allah, Allah akan mencukupi.

٣. لم يلد و لم يولد
3. Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan

يلد: melahirkan
يولد: dilahirkan

Ayat ini merupakan pensucian Allah dari mempunyai anak laki-laki, anak perempuan, ayah, atau ibu. Orang-orang Musyrik Arab menganggap bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah, kaum Yahudi menganggap bahwa Uzair adalah anak Allah, kaum Nasrani juga menganggap bahwa Isaadalah anak Allah. Pada ayat ini, secara tegas Allah meniadakan itu semua.

٤. و لم يكن له كفوا احد
4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”

كفوًا: sekufu, sepadan

Maksudnya adalah tidak ada seorang pun sama dalam setiap sifat-sifat Allah. Allah meniadakan dari diri-Nya memiliki anak atau dilahirkan sehingga memiliki orang tua. Juga Allah meniadakan adanya yang semisal dengan-Nya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan makna ayat ini: ”dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” yaitu tidak ada yang serupa (setara) dengan Allah dalam nama, sifat, dan perbuatan.

Renungan

Saudaraku, mari periksa hati kita, adakah disana terdapat cinta yang berlebihan kepada orang tua, pasangan, atau segala hal duniawi? Sesungguhnya kecintaan yang berlebihan terhadap dunia dapat merusak kesempurnaan tauhid seorang hamba. Padahal sudah jelas dalam surah Al Ikhlas Allah secara tegas mengukuhkan bahwa hanya Dia semata Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Dengan demikian, konsekuensinya adalah keikhlasan kita dalam beribadah hanya kepada-Nya.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan-Mu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.”

Wallahu a’lam.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>