WhatsApp Image 2017-03-17 at 08.44.48

Akhlak Seorang Ulama Ahlussunnah

Rangkuman Kultum
Jum’at, 10 Maret 2017 M
11 Jumadil Tsani 1438 H

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Takwa dan Akhlak yang baik adalah amalan utama yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga,
Takwa dan Akhlak yang baik adalah amalan yang memberatkan mizan kebaikan di hari kiamat nanti.

1. Takwa adalah melakukan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi maksiat yang dilarang Allah.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

2. Akhlak yang baik adalah tanda kesempurnaan iman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim.

وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Moga Allah menyucikan arwahnya.”

Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.

وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم

Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.

وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه

Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).

Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.”

Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.

Perkataan Ibnul Qoyyim di atas saya jumpai dalam Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H.

Lihatlah bagaimana lapangnya hati Ibnu Taimiyyah, musuh besarnya yang sangat menentang dan paling menyakiti beliau tatkala meninggal maka Ibnu Taimiyyah segera menghibur keluarganya yang ditinggalkan. Bahkan Ibnu Taimiyyah membentak Ibnul Qoyyim yang bergembira dengan kematian musuhnya tersebut.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

Tafsir AL Bayyinah part 2

Tafsir Al Bayyinah Ayat 6-8

 

Ayat 6 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan keburukan serta kecelakaan yang besar terhadap orang-orang musyrik dan kafir, yaitu kekal di dalam neraka Jahannam. Hal itu terjadi karena dosa kafir dan syirik tidak akan diampuni Allah SWT, kecuali orang tersebut telah bertaubat sebelum ajal menjemputnya.

Kesyirikan para ahli kitab dan orang-orang kafir cukuplah menjadi cap atau tanda bahwa mereka adalah seburuk-buruk makhluk.

Ayat 7 :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa kesholehan hamba-Nya menjadi tanda bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Oleh karena itu, Abu Hurairah dan sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa manusia dapat lebih baik dari malaikat dengan cara beriman dan beramal shaleh.

Ayat 8 :

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan kembali balasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh, yaitu Allah meridhai mereka dan mereka ridha dengan Allah SWT hingga mereka berada dalam kenikmatan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.

Disebutkan sungai-sungai (الْأَنْهَارُ) karena di dalam surga, terdapat banyak jenis sungai. Mulai dari sungai berair jernih, sungai madu, sungai susu, dan sungai khamr (lihat QS. Muhammad : 15 ).

Dalam suatu hadits berbunyi,
“Orang yang sudah pernah mencicipi khamr di dunia maka ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya khamr di akhirat.”

Kemudian, kata خَشِيَ pada ayat ini memiliki perbedaan dengan kata خَوْفُ yang secara bahasa artinya sama-sama “takut”. Kata خَشِيَ pada ayat ini secara istilah yaitu rasa takut yang didasari dengan ilmu.

Semakin orang berilmu atau semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, maka seharusnya semakin besar pula rasa takut orang tersebut kepada Allah SWT. Oleh karena itu pada sebuah ayat disebutkan,
اِنَّماَ يَخْشَ اللّٰهُ العُلَمٰوا
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah ialah para ulama.”

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

WhatsApp Image 2017-03-10 at 10.22.36 AM

Sabar

Berikut adalah rangkuman kultum Riyadhus Sholihin bab Sabar  pada hari Rabu, 8 Maret 2017 yang disampaikan oleh ustadz Jihad ketika para santri beserta ustadz dan ustadzah menyelesaikan jamaah subuh dan membaca Al-Ma’tsurat berjamaah.

Hadits 32: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِيْ جَزاَءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلاَّ الْجَنَّةَ.

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Tidak ada balasan yang pantas bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mengambil (mewafatkan) orang yang dicintainya kemudian ia mengharap pahala dari musibahnya tersebut, melainkan surgalah (balasan) baginya.” [HR. Al-Bukhari no. 6424]

* Merupakan musibah dan ujian terbesar yang dihadapi seseorang yaitu ketika kehilangan orang yang dicintainya.
* Bagi orang yang bersabar maka baginya ganjaran yang besar pula yaitu surga.
* Yang dikatakan sabar adalah ketika diawal ditimpanya musibah. Sebagaimana hadits nabi :

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى.

“Sabar itu adalah pada goncangan yang pertama.” [HR. Al-Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 926 (14)]

 

Hadits 33

وعن عائشة رضي الله عنها أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها أنه كان عذابا يبعثه الله تعالى على من يشاء فجعله الله تعالى رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع في الطاعون فيمكث في بلده صابرا محتسبا يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد رواه البخاري
Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah tentang Tha’un. Beliau menjawab bahwa Tha’un adalah siksa yang diturunkan Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Juga sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang yang ditimpa Tha’un, lalu ia menetap di daerahnya dengan sabar dan ikhlas, dan ia menyadari bahwa tidak ada yang akan menimpanya, kecuali yang sudah ditentukan oleh Allah, maka orang itu akan mendapatkan pahala sebagaimana yang diterima oleh orang yang mati syahid. (HR. Bukhari)

* Tho’un adalah bisul yang sangat menyakitkan yang biasa muncul di sekitar ketiak, sekelilingnya hitam dan diikuti jantung yang berdebar dan muntah-muntah (lihat syarh Riyadhus Sholihin karya Syaikh Salim ibn ‘ied Al-hilali)
* Tho’un merupakan penyakit dan adzab bagi orang-orang terdahulu.
* Namun, merupakan bentuk Rahmat dari Allah bagi kaum muslimin yang bersabar.

Kesedihan, kesusahan dan rasa sakit dapat membuahkan pahala jika orang yang ditimpa bersabar. Dan kekhususan ini hanya berlaku bagi orang yang beriman. Sebagaimana sabda nabi :

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” [HR. Muslim no. 2999]

* Orang yang meninggal karena tha’un dalam keadaan bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka pahalanya seperti orang yang mati syahid.
* Orang yang meninggal karena tha’un jasad nya tetap diurus seperti jenazah pada umumnya, dimandikan, dikafani, dll. Tidak seperti orang yang syahid.
* Bagi orang yang terkena tha’un hendaknya ia bersabar dan tidak keluar dari daerahnya agar tidak menyebar wabah penyakitnya. Begitu pula orang yang sehat hendaknya ia tidak memasuki daerah yang terkena wabah tha’un.
* Karantina sudah ada pada sejak zaman Islam.

 

Temukan notulensi kajian lainnya di link berikut ini:

Tafsir Surat Al-Bayyinah Ayat 1-5

Syarat Menjadi Imam Shalat

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam

Tugas dan Wewenang Imam

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

Tafsir Al Bayyinah part 1

Tafsir Surat Al-Bayyinah Ayat 1-5

“1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, 2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), 3. di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. 4. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 1-5)

Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (tidak akan meninggalkan) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.

Hattaa ta’tiyaHumul bayyinaH (Sehingga datang kepada mereka bukti yang nyata.) yaitu Alquran ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi wal musyrikiina mungfakkiina hatta ta’tiyaHumul bayyinaH (Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka] tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata). Kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firmanNya: Rasuulum minallaaHi yatluu shuhufam muthaHHaraH (Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan [al-Qur’an].) yakni Muhammad saw. dan Alquran al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul A’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.

Dan firman Allah Ta’ala: FiHaa kutubung qayyimaH (Di dalamnya terdapat [isi] Kitab-kitab yang lurus.) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.

Wa maa tafarraqal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-atHumul bayyinaH (Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab [kepada mereka] melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.) yang demikian itu  seperti firman Allah yang lainnya: wa laa takuunuu kalladziina tafarraquu mim ba’di maa jaa-aHumul bayyinaatu wa ulaa-ika laHum ‘adzaabun ‘adziim. Dan janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imraan: 105). Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.

Wa maa umiruu illaa liya’budullaaHa mukhlishiina laHuddiina (Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam [menjalankan] agama) hunafaa-a (Yang lurus) yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju pada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya  dalam surat al-An’am. Wa yuqiimuunash shalaaH (Dan supaya mereka mendirikan shalat) yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. Wa yu’tuzzakaa (Dan menunaikan zakat) yaitu berbuat baik kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Wa dzaalika diinul qayyimah (Dan yang demikian itulah  agama yang lurus) yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau umat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi’i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu termasuk dalam keimanan.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More