Mengenal Wakaf Produktif

Penulis : Admin   |   2020-02-24 14:52:09


Masih terdengar asing bagi orang orang di sekitar kita terhadap kata wakaf, apalagi ditambah kata selanjut nya yaitu produktif, mungkin kalau wakaf lumayan banyak yang mengetahui. Wakaf sendiri memiliki makna perbuatan hukum wakif (pihak yang mewakafkan harta benda milik nya ) untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingan nya guna keperluan nya untuk ibadah atau kesejehteraan umum menurut Syariah, nah dalam wakaf ada yang nama nya nazir. Nadzir adalah nama atau panggilan bagi pengelola wakaf. Kedudukan Nadzir bila di dunia zakat disebut dengan amil. Pengertian Nadzir secara sederhana adalah pihak yang menerima harta benda Wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.

Dan pada hakikat nya setiap asset wakaf yang di terima oleh nazir itu harus menjadi wakaf produktif. Produktif yang dimaksud adalah setiap wakaf harus dikelola dan dikembangkan sehingga menghasilkan benefit atau manfaat yang di peruntukan untuk penerima wakaf. Dan yang membedakan antara wakaf dengan sedekah, infak, jikalau ketiga itu dibagi habis untuk mustahik, sedangkan wakaf pokok nya harus tetap dan manfaatnya dibagikan untuk mustahik.

Menurut Standar Syariah International (Accounting and Auditing Organizations for Islamic Financial Institutions ) AAOIFI di Bahrain dan Lembaga Fikih OKI menegaskan jika asset wakaf uang itu dikelola dan dikembangkan dalam bentuk investasi harus memenuhi kriteria berikut ini. Pertama usaha yang menjadi tempat investasi harus sesuai Syariah, seperti deposito bank Syariah dan sukuk. Kedua, wakaf uang yang dinvestasikan pada usaha usaha dengan risiko yang terkendali. Oleh karena itu tidak boleh mengelola dana asset wakaf pada usaha usaha dengan risiko tinggi yang berpotensi kerugian. Dan ditegaskan dalam undang undang wakaf bahwa : “nazir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukan nya. Pengelolaan dan pengebangan harta benda wakaf oleh nazir dilaksanakan sesuai dengan prinsip Syariah.

Dan perlu diketahui juga nih bahwa wakaf uang dan wakaf melalui uang ternyata berbeda, dalam wakaf uang jelas bahwa objek nya adalah benar benar uang. Sedangkan, wakaf melalui uang, objek wakaf nya uang yang di serahkan ke pewakaf melainkan peruntukan nya untuk apa. Contoh, jika ada yang mewakafkan uang sebesar 5 juta kepada nazir, maka itu adalah wakaf uang. Sedangkan, jika misal nya sebuah yayasan mengumpulkan donasi wakaf untuk biaya pendirian rumah sakit (rumah dan bangunan) kemudian pewakaf menyerahkan uang 5 juta itu kepada nazir, itu disebut wakaf melalui uang karena yang di wakafkan sebenernya adalah sudah jelas adalah tanah dan bangunan.

Wakaf uang dan wakaf melalui uang hukum nya di bolehkan bahkan dianjurkan dalam islam sebagaimana di tegaskan para ulama salaf dan khalaf seperti ulama mazhab malikiyah, muhammad bin abullah al anshari dan ibnu taimiyah. Kesimpulan ini juga menjadi keputusan Lembaga Kikih OKI Nomor 140 dan Standar Syariah International AAOIFI tentang wakaf.

 

Rizal Aziz Alfarizi - Mahasiswa SEBI 2018


Berikan Komentar


Komentar

Artikel Kami




Program Kami


1
2020-01-31 16:39:43
2
2019-01-24 08:47:34
3
2019-01-23 23:41:59