Laut Kaya Tetapi Nelayan Belum Juga Sejahtera, Adilkah?

Penulis : Admin   |   2020-03-10 16:00:14


“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur”

  • Q.S An-Nahl ayat 14

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki 17.508 pulau yang terbentang dari Sabang hingga merauke dengan luas wilayah sebesar 7,81 yang terdiri dari 2,01 juta km daratan, 3,25 juta km lautan, dan 2,55 juta km Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Indonesia juga merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada, yakni 81.209 Km. Dengan jumlah pulau sebanyak itu, menempatkan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan demikian, Indonesia adalah negara yang memiliki lautan yang lebih luas daripada daratan. Kondisi demikian merupakan pemberian Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan optimal agar tercipta kesejahteraan bagi segenap rakyat Indonesia.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), nilai potensi kekayaan laut Indonesia senilai 1.772 triliun rupiah. 312 triliun berasal dari sektor perikanan, 45 triliun dari terumbu karang, 21 triliun dari mangrove, 4 triliun dari lamun, 560 triliun dari potensi kekayaan pesisir, 400 triliun dari bioteknologi, 20 triliun dari wisata bahari, 210 triliun dari minyak bumi, dan 200 triliun dari transportasi laut.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

  • Q. S Ar-Rahman ayat 55

Namun, dari semua potensi kekayaan Indonesia belum juga memberikan kesejahteraan bagi segenap rakyat indonesia, khususnya nagi nelayan pesisir. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir dari tahun 2003 hingga 2013, terjadi penurunan mata pencaharian nelayan dari yang awalnya terdapat 1.600.000 rumah tangga usaha penangkapan ikan menjadi 868.000 rumah tangga usaha penangkapan ikan. Sungguh ironis memang, disaat karyawan-karyawan kantoran di daratan membludak, justru jumlah nelayan mengalami penurunan. Padahal luas lahan lapangan pekerjaan di lautan lebih luas daripada daratan. Indonesia perlu khawatir, generasi-generasi selanjutnya sudah tidak ada lagi pemuda yang mau menjadi nelayan karena tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pembangunan yang hanya berfokus di daratan merupakan salah satu penyebab laut Indonesia stagnan. Reklamasi di bagian utara DKI Jakarta beberapa tahun lalu yang menyebabkan tercemarnya laut di sekitarnya merupakan bukti nyata ketidakadilan pemerintah saat itu kepada nelayan Jakarta. Dibalik masalah perizinan, timbul juga masalah pencemaran lingkungan yang membuat habitat-habitat ikan hilang sehingga mata pencaharian nelayan pun hilang.

Pemerintah harus sudah mulai berfokus pada pembangunan laut, dimulai dengan membangun Sumber Daya Manusianya. Andai pemerintah dan stakeholder terkait berfokus pada peningkatan efisiensi penggarapan potensi perikanan saja, setidaknya Indonesia dapat mendapatkan kekayaan 312 triliun rupiah. Belum lagi ditambah potensi dari sektor lainnya.

Infrastruktur alat tangkap perikanan pun harus ditingkatkan. Indonesia sudah harus mulai menggunakan alat tangkap ikan berbasis teknologi tinggi seperti nelayan-nelayan di negara maju, Jepang misalnya. Nelayan-nelayan di negeri sakura tersebut lebih sejahtera daripada nelayan di Indonesia karena dari segi teknologi pun Indonesia tertinggal jauh. Misal, ikan Tuna di Jepang itu lebih enak daripada ikan tuna di Indonesia. Mengapa demikian? Bukan karena lingkungan laut Indonesia lebih buruk daripada di Jepang, melainkan cara tangkap ikan di Jepang lebih bagus dibandingkan Indonesia. Nelayan Jepang memiliki cold storage yang lebih modern dengan menggunakan media ice slurry sehingga membuat ikan lebih segar ketika sampai di daratan. Bandingkan dengan nelayan di Indonesia yang masih menggunakan cold storage dari balok es. Ice slurry adalah jenis es yang direkayasa bentuk dan suhunya. Bentuknya seperti lumpur sehingga es dapat menyelimuti ikan dan suhunya bisa sampai -20 C. Hal tersebut membuat ikan seperti mati suri dan ketika ikan sampai ke daratan, ikan tetap segar.

Salah satu contoh tersebut seharusnya bisa menjadi penyemangat Indonesia untuk bisa meningkatkan teknologi pada industri perikanan Indonesia. Bukti ketertinggalan nelayan Indonesia pun seharusnya bisa menjadi peringatan bagi Indonesia untuk lebih memerhatikan pembangunan di sektor kelautan Indonesia untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

 

Muhammad Farhan Mahandika - Mahasiswa Teknik Perkapalan UI


Berikan Komentar


Komentar

Artikel Kami




Program Kami


1
2020-01-31 16:39:43
2
2019-01-24 08:47:34
3
2019-01-23 23:41:59