Dari Madrasah Menuju Peradaban Islam

Penulis : Admin   |   2020-04-05 21:36:34


Islam menjadi sesuatu yang berharga bagi kehidupan manusia. Islam membangun berbagai unsur kemanusiaan serta menjamin kelanjutan hidup bukan hanya kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan yang kekal, akhirat. Inti dari seluruh syariat Islam untuk menjadi bekal manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi dan beribadah kepada Allah. Berbeda dari makhluk ciptaan lainnya, manusia diberi akal untuk terus berpikir dan melanjutkan peradaban. Ya, berpikir adalah tanda hidupnya sebuah peradaban. Apabila manusia berhenti berpikir, matilah peradaban. Islam sebagai suatu peradaban semakin tidak berdaya di tengah-tengah dominasi peradaban Barat dan globalisasi nilainya. Menurut (Usman, 2014), semakin berkembang peradaban Barat semakin mengecil harapan kebangkitan dunia Islam. Hal ini dikarenakan menurunnya kemauan berpikir dan menjauhnya dari nilai-nilai agama pada individu-individu muslimnya. Individu yang banyak, tetapi lemah layaknya buih. Kiranya demikian dengan gambaran muslim di Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang mayoritasnya muslim sekarang ini masih terdapat dalam jajaran negara berkembang. Permasalahan dari segala lini kehidupan masyarakat semakin hari semakin rumit, dari pendidikan, politik, ekonomi, juga sosial masyarakatnya. Salah satu pihak yang menyumbang masalah pelik dan menyebabkan lemahnya Indonesia dari segi kemandirian bangsa, ialah industri Farmasi. Permasalahan ketidakmandirian industri farmasi terhadap suplai bahan baku berlanjut kepada permasalahan kekhawatiran masyarakat sebagai konsumen terhadap kehalalan produk-produk farmasi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2017, sekitar 90 persen bahan baku industri farmasi di Indonesia berasal dari impor. Impor terbesar bahan baku farmasi saat ini adalah dari Cina yaitu sekitar 60 persen. Sisanya dari India sekitar 25 persen, dan selebihnya dari Eropa dan Amerika. Kesemua negara pengimpor notabenenya ialah negara non-muslim yang kurang peduli akan status kehalalan obat (MUI, 2018). Gelatin merupakan salah satu bahan baku yang paling banyak digunakan dalam industri farmasi, makanan, dan kosmetik. Gelatin adalah satu dari biopolymer yang umum. Ini adalah protein berserat terdenaturasi yang diperoleh baik dengan hidrolisis asam parsial (gelatin tipe A) atau dengan hidrolisis alkali parsial (gelatin tipe B) dari kolagen hewan(Zilhadia et al, 2018). Dalam pembuatan gelatin komersial, bahan dasar yang sering digunakan adalah tulang dan kulit dari sapi (bovin) dan babi (porsin). Penggunaan gelatin dalam farmasi biasa dipilih karena kemampuannya dalam melindungi obat-obatan dari berbagai kontaminasi seperti cahaya dan oksigen sebagai upaya mencegah degradasi (Andini, 2018). Sedangkan gelatin dari bahan dasar lain seperti ikan dan unggas masih jarang digunakan dan biasanya hanya diproduksi untuk konsumen dengan kepercayaan tertentu. Dalam industri farmasi, gelatin biasa digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan kapsul keras maupun lunak.

Permasalahan gelatin babi ini menjadi dilematika tersendiri bagi konsumen. Pasalnya, produk farmasi tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari untuk dikonsumsi. Sementara itu, perihal segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh manusia, telah jelas diatur dalam Al Quran. Al Qur’an mengatur mengenai halal-haramnya makanan. Hal tersebut tertuang dalam Q.S Al- Maidah ayat 3:

Yang artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…

Ayat tersebut menjadi pedoman manusia memilih makanan, termasuk di dalamnya diharamkan memakan babi. Pengertian lahm mencakup semua bagian tubuh babi, hingga lemaknya. Di dalam H.R Muslim terkandung makna yang menunjukkan pengertian daging mencakup semua anggota tubuh, termasuk lemak dan lain-lainnya. Di dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Sesungguhnya Allah mengharamkan jual beli khamr, bangkai, daging babi, dan berhala. Maka diajukan pertanyaan, ""Wahai Rasulullah, bagaimanakah menurutmu tentang lemak bangkai' Karena sesungguhnya lemak bangkai dipakai sebagai dempul untuk melapisi perahu dan dijadikan sebagai minyak untuk kulit serta dipakai sebagai minyak lampu penerangan oleh orang-orang, "" Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Jangan, itu (tetap) haram (Tafsir Ibnu katsir dalam Learn Quran).

Seluruh umat Islam dilarang mengonsumsi makanan ataupun bahan makanan yang mengandung sumber yang diharamkan dari babi, termasuk bagian-bagian babi berupa lemak, tulang dan produk-produk yang mengandung babi. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya muslim telah menjamin kehalalan produknya melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. Meskipun demikian, baru tahun 2019 pemerintah berkomitmen mewajibkan semua produk harus mempunyai lisensi halal. Melalui lisensi ini, produk mendapatkan kepercayaan lebih dari masyarakat. Selama ini tanpa adanya lisensi, banyak keraguan yang muncul di masyarakat untuk mengonsumsi, termasuk konsumsi obat. Sebelumnya, sertifikat halal memang belum menjadi standar yang perlu dipenuhi setiap produsen, terutama bidang farmasi.

Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, konstitusi wajib menjamin umat Islam memperoleh produk halal. Ketidakseimbangan antara harapan, komitmen pemerintah, serta pengetahuan masyarakat dari segi hukum Islam dan kesehatan yang masih kurang menjadikan permasalahan ini semakin kompleks. Indonesia telah berkomitmen untuk menjamin produk halal bagi masyarakatnya. Namun, pada kenyataannya industri farmasi belum mampu memenuhi bahan bakunya sendiri, masih bergantung pada negara impor yang tidak memperhatikan kehalannya. Sementara masyarakat terbagi-bagi dalam menyikapi ini. Ada masyarakat yang hanya diam, tetapi tidak mengerti. Ada masyarakat yang mengerti, tapi dilema bagaimana harus bersikap. Namun, hukum Allah ialah mutlak. Dalam Al Qur’an telah dinyatakan haram mengonsumsi babi dalam segala bentuknya. Segala sesuatu yang diciptakan dan segala aturannya bukanlah sia-sia adanya, pasti ada hikmah kebaikan untuk kehidupan manusia termasuk aturan larangan mengonsumsi babi dalam segala bentuknya.

Oleh karena itu, masalah penggunaan gelatin babi, masalah bahan baku farmasi yang belum terjamin halal-haramnya perlu ditelaah dengan lebih mendalam secara ilmiah, melalui studi farmasetik agar diperoleh pengetahuan yang lebih komprehensif mengenai penggunaan gelatin babi, bahan baku farmasi impor yang masih menjadi unggulan, dan efeknya terhadap kesehatan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi acuan dalam meminimalkan penggunaan gelatin babi atau bahan-bahan lain yang tidak jelas kehalalannya, dan memicu berkembangnya alternatif bahan baku farmasi. Pengetahuan-pengetahuan ini ada dan telah dipelajari oleh seorang penuntut ilmu di bidang Farmasi.

Sudah terlalu lama Indonesia terpuruk dengan kisah masa lalunya. Sudah saatnya, para pemuda bangsa, muslim penuntut ilmu untuk bangkit menghidupkan peradaban. Sudah saatnya dari madrasah (pendidikan) ikut serta membangkitkan kejayaan Islam. Ya, dengan berpikir menghidupkan peradaban. Hal-hal konkrit yang bisa dilakukan oleh seorang muslim farmasis, ialah memperdalam ilmu, memberikan inovasi, memberi pencerdasan masyarakat, membantu terjaminnya produk farmasi halal, dan mendukung kemandirian industri farmasi Indonesia. Dengan demikian, semoga suatu hari nanti dapat terwujud Indonesia yang madani dengan rakyatnya yang sehat ruhani serta jasmani.

 

Famila Takhwifa

Mahasiswi Farmasi - Universitas Indonesia

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka:

Al Quran Al Karim

Tafsir Learn Qur’an. [Online]. Diakses melalui https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-5-al-maidah/ayat-3

Zilhadia, Yahdiana, H., Irwandi, J., Effionora, A. (2018). Characterization and functional properties of gelatin extracted from goatskin. International Food Research Journal 25(1): 275-281. [Online]. Diakses melalui: http://www.ifrj.upm.edu.my

LPPOM MUI. (2018). Mencermati Kehalalan Suplemen Dan Obat. [Online]. Diakses melalui: http://www.halalmui.org

Syihab, Usman. (2014). Peranan Agama dalam Restorasi Peradaban Umat Islam Menurut Muhammad Fethullah Gulen. Jakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah


Berikan Komentar


Komentar

Artikel Kami




Program Kami


1
2020-01-31 16:39:43
2
2019-01-24 08:47:34
3
2019-01-23 23:41:59