Penerapan Core Competence Muslim Sebagai Bekal Menghadapi Tantangan Zaman

Penulis : Admin   |   2020-04-05 21:36:23


Peradaban besar lahir dari berkembangnya ilmu pengetahuan. Islam menempatkan ilmu pengetahuan dalam kedudukan yang mulia. Subtansi betapa besarnya kedudukan ilmu pengetahuan dalam Islam dibuktikan dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wassalam dalam Qur’an Surat Al-‘Alaq yaitu Iqra’, “bacalah”. Membaca adalah salah satu kunci membuka tabir ilmu pengetahuan. Makna yang terkandung dalam Al-Qur’an ini sangat dipahami dan diaktualisasikan oleh umat Islam pada masa dahulu sehingga banyak karya-karya besar yang dihasilkan. Kemajuan peradaban Islam membuat berbagai bangsa tertarik untuk mempelajarinya. Kekaguman atas Islam, misalnya dikemukakan oleh Abraham S. Halkin dalam bukunya The Judeo-Islamic Ages and Ideas of The Jewish People.

Islam sebagai agama yang membawa peradaban baru memiliki batasan terhadap peradaban itu sendiri, sehingga tujuan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dari peradaban sebelumnya bisa tercapai. Peradaban Islam memiliki empat karakteristik fundamental (Al-sirjany, 2009) : Bersifat Universal; Tauhid; Al-Tawazun wa al-Wasthiyah (keseimbangan dan moderat); Al-Shibghoh Al-Akhlaqiyah (menekankan pada aspek moral). Ilmu pengetahuan harus selaras dengan karakter peradaban Islam. Ilmu pengetahuan dikembangkan dalam kerangka tauhid. Menerapkan tauhid berarti meyakini adanya Allah Subhanahu Wata’ala dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan tingkah laku. Dengan bekal tauhid ini maka manusia akan memahami hakikat penciptaannya dan keterikatanya dengan hukum alam semesta (sunnatullah). Alam semesta ini yang kemudian menjadi objek kajian manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan seperti matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, geologi, dan ilmu sains lainnya serta berkembang juga ilmu mengenai hubungan manusia dengan manusia lainnya seperti ilmu sosial, ekonomi, budaya, dan ilmu sosial lainnya.

Ilmu pengetahuan dalam Islam dikembangkan dalam rangka untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dorongan Al-Qur’an untuk mempelajari fenomena alam dan sosial tampak kurang diperhatikan, sebagai akibat perhatian dakwah Islam yang semula lebih tertuju untuk memperoleh keselamatan di Akhirat. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita peka terhadap keadaan sekitar dan mengembangkan potensi ilmu yang kita miliki untuk memajukan peradaban Islam. Beberapa kontribusi yang bisa kita lakukan adalah dengan mengembangkan core competence yang kita miliki sebagai ladang untuk mendakwahkan Islam sesuai dengan bidang yang kita geluti saat ini. Saat ini sudah banyak ulama di lingkungan kita yang kita kenal Beliau bukan hanya ulama tapi juga seorang cendekiawan. Suatu keberuntungan apabila kita bisa menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat kita. Siapa orang di dunia ini yang tidak mau sukses dan bahagia di dunia dan akhirat? Tentu hal itu adalah dambaan setiap manusia yang beriman.

Pengembangan ilmu pengetahuan dalam bentuk lahiriahnya, jangan sampai menghilangkan makna spiritualnya, yakni sebagai sarana untuk menyaksikan kebesaran Tuhan. Keseimbangan antara kecerdasan moral dan spiritual dapat mengantarkan peradaban Islam mencapai masa keemasaanya. Para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan adalah pribadi-pribadi yang senantiasa taat beribadah kepada Allah dan memiliki kesucian jiwa dan raga. Ibnu Sina misalnya, sebagaimana diinformasikan oleh Mohammad Athiyah Al-Abrasyi dalam (Nasution,1994), memiliki kebiasaan spiritual saat menemui kesulitan intelektual. Dikatakan: “Jika Ibnu Sina menemui kesulitan, ia pergi ke masjid kemudian berwudlu, shalat dan berdoa hingga sesuatu yang menutupi kecerdasannya dapat tersingkap.” Dapatkah kita meneladani ulama terdahulu yang seimbang urusan dunia dan akhiratnya, bahkan dengan ilmunya bisa memajukan peradaban dunia? Kerinduan akan masa kejayaan Islam ketika pada masa terang benderangnya menerangi dunia sangat kita rindukan. Hal tersebut dapat kita wujudkan dengan menyelami samudera ilmu pengetahuan melalui core competence yang kita miliki. Dalam Al-Quran pun disebutkan bahwa “.. Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d : 53). Mari kita wujudkan kejayaan peradaban Islam dengan menerapkan core competence kita sebagai muslim untuk bekal menghadapi tantangan zaman.

 

Umima’tum Rikhasanah

Mahasiswi Geologi - Universias Indonesia

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi:

Al- Quranul karim

Abraham S. Halkin, The Judeo-Islamic Ages & Ideas of the Jewish People (New York: The Modern Library, 1956), hal. 218-219.

Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. Lihat pula: Harun Nasution, Islam Rasional (Bandung: Mizan, 1994), hal. 112.

Raghib Al-Sirjany, Madza Qaddama Al-Muslimun li Al-‘Alam: Ishamat Al-Muslimin fi Al-Hadlorat Al-Insaniyyah (Kairo: Muassasah Iqra’, 2009), Juz 1, hal. 49.


Berikan Komentar


Komentar

Artikel Kami




Program Kami


1
2020-01-31 16:39:43
2
2019-01-24 08:47:34
3
2019-01-23 23:41:59