PEMUDA: Dilema Antara (menjadi) Kaum Rebahan atau Kaum Perubahan

Penulis : Admin   |   2020-04-13 20:54:03


“Beri aku 1000 orang tua, akan kucabut semeru dari akarnya dan beri aku 10 pemuda, maka
akan kugoncangkan dunia!”

- Ir. Soekarno (Proklamator RI, Presiden RI Pertama)

Dewasa ini, kita dihadapkan pada dunia yang semakin sibuk dan dinamis. Dunia dengan
berbagai teknologi yang memudahkan namun memiliki sisi yang bisa melemahkan. Manusia
dituntut untuk bisa struggle di tengah kesibukan dan dinamisnya dunia tanpa harus kehilangan
jati diri. Salah satu solusi agar tidak kehilangan jati diri itu adalah dengan menjejaki kisah
perjuangan para pemuda sebelum zaman kini.


Napak Tilas Sumpah Pemuda

Kongres Sumpah Pemuda berlangsung sebanyak dua kali, jauh berpuluh tahun sebelum
Indonesia merdeka. Pada kongres yang kedua, lahirnya kalimat-kalimat yang menggugah,
sebuah sumpah yang kita ulang-ulang minimal satu kali dalam satu tahun, untuk mendapatkan
semangat yang hampir tak pernah padam. Sumpah itu kita kenal dengan Sumpah Pemuda.
Tertanggal 28 Oktober 1928, sumpah itu masih bisa kita dengar, kita baca, dan bahkan kita salin
ulang sampai detik ini.


Sumpah itu tertulis seperti ini:
Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami, putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami, putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia


Sumpah itu diikrarkan sudah seratus tahun (lebih) yang lalu. Namun, ruh semangatnya
masih mengalir. Sumpah yang terucap dari hati tulus demi merdekanya sebuah bangsa. Saat
begitu diragukan karena masih terkungkung oleh penjajahan, namun para pemuda masa itu sudah
berazzam, bahwa Indonesia bisa merdeka, dan mereka, para pemuda adalah aktornya. Pada
kongres pemuda yang kedua pula, lahir lagu kebangsaan dan kebanggaan kita, Indonesia Raya.


Ekspektasi terhadap Pemuda

Riwayat perjuangan pemuda yang begitu banyak tercatat dalam lembar sejarah, membuat
pemuda semacam memiliki ‘beban moral’ dan juga ‘beban sejarah’ apabila tidak melakukan
perjuangan yang serupa. Pemuda menjadi sekelompok orang-orang yang dibebankan ekspektasi
dari kelompok lainnya, entah yang lebih tua atau yang lebih muda. Pemuda dituntut untuk
melakukan hal-hal yang luar biasa, mampu mendobrak kemapanan, dan tercatat dalam jejakperadaban. Dalam Alquran, pemuda diceritakan dalam salah satu surah yaitu Surah Al Kahfi
(Penghuni Gua) yang menceritakan bahwa terdapat sekelompok pemuda yang rela bersembunyi
demi mempertahankan keimanannya dari penguasa yang zalim. Dalam sejarah Indonesia,
pemuda mencatatkan perjuangannya hingga lahir sumpah pemuda, dan berperan penting dalam
perjuangan menuju Indonesia merdeka saat terjadi keraguan di golongan tua, golongan muda
memainkan perannya. Kini, pemuda dituntut untuk tetap memuhi ekspektasi itu, memaksimalkan
perannya di manapun mereka berada.
 

Dilema antara Kaum Rebahan atau Kaum Perubahan

Persoalan yang tak luput dari setumpuk kisah pemuda yang mengagumkan adalah
tantangan zaman. Kini, pemuda hampir sebagian besar cukup nyaman menjadi ‘kaum rebahan’.
Pemuda nyaman dengan berbagai fasilitas, teknologi, dan kemapanan yang berstatus ‘turunan’
bukan benar-benar hasil dari yang mereka perjuangkan. Pemuda memilih asyik dengan ‘zona
nyaman’ dan tak mau bergerak jauh-jauh dari situ, jikapun ada jumlahnya memang cenderung
cukup dihitung jari. Tahun 2030, yang menjadi tahun di mana Indonesia mendapatkan bonus
demografi, saat usia produktif mencapai jumlah tertinggi, saat pemuda menyentuh usia produktif
untuk menghasilkan karya. Tahun tersebut bisa saja menjadi tahun menggembirakan untuk
terwujudnya harapan masa depan bagi negara yang layak dicontoh peradaban atau sebaliknya,
menjadi tahun paling mengecewakan karena hanya mengikuti arus perubahan dan menunggu
tergerus zaman.
Nah, sekarang, pilihan bagi kita, para pemuda (ditambah sebagai para penghafal Quran,
insyaAllah), memilih menjadi kaum rebahan atau kaum perubahan? Ketika kita tahu, memilih
(hanya) menjadi kaum rebahan artinya menegasikan ayatNya,
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa
takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan
kepada mereka.” (Q.S As Sajdah (32): 16)

Yuk, mari berubah.


Halaqah Maryam - Tahfizh Smart 8


Berikan Komentar


Komentar

Artikel Kami




Program Kami


1
2020-01-31 16:39:43
2
2019-01-24 08:47:34
3
2019-01-23 23:41:59