WhatsApp Image 2017-03-17 at 08.44.48

Akhlak Seorang Ulama Ahlussunnah

Rangkuman Kultum
Jum’at, 10 Maret 2017 M
11 Jumadil Tsani 1438 H

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Takwa dan Akhlak yang baik adalah amalan utama yang banyak memasukkan manusia ke dalam surga,
Takwa dan Akhlak yang baik adalah amalan yang memberatkan mizan kebaikan di hari kiamat nanti.

1. Takwa adalah melakukan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi maksiat yang dilarang Allah.

Namun takwa yang sempurna kata Ibnu Rajab Al Hambali adalah dengan mengerjakan kewajiban, meninggalkan keharaman dan perkara syubhat, juga mengerjakan perkara sunnah, dan meninggalkan yang makruh. Inilah derajat takwa yang paling tinggi.

2. Akhlak yang baik adalah tanda kesempurnaan iman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan akhlak yang baik sebagai tanda kesempurnaan iman. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Berikut ini adalah praktek nyata yang menunjukkan bagaimana akhlak seorang ahli sunnah terhadap musuhnya. Inilah contoh akhlak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagaimana diceritakan sendiri oleh muridnya yang demikian berbakti, Ibnul Qoyyim.

وما رأيت أحدا قط أجمع لهذه الخصال من شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه وكان بعض أصحابه الأكابر يقول : وددت أني لأصحابي مثله لأعدائه وخصومه

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku tidak mengetahui seorang yang memiliki sifat-sifat ini selain Ibnu Taimiyyah. Moga Allah menyucikan arwahnya.”

Salah seorang murid senior beliau pernah mengatakan, “Aku berharap bisa bersikap dengan para shahabatku sebagaimana Ibnu Taimiyyah bersikap dengan musuh-musuhnya”.

وما رأيته يدعو على أحد منهم قط وكان يدعو لهم

Aku tidak pernah mengetahui Ibnu Taimiyyah mendoakan kejelekan untuk seorang pun dari musuh-musuhnya. Sebaliknya beliau sering mendoakan kebaikan untuk mereka.

وجئت يوما مبشرا له بموت أكبر أعدائه وأشدهم عداوة وأذى له فنهرني وتنكر لي واسترجع ثم قام من فوره إلى بيت أهله فعزاهم وقال : إني لكم مكانه ولا يكون لكم أمر تحتاجون فيه إلى مساعدة إلا وساعدتكم فيه ونحو هذا من الكلام فسروا به ودعوا له وعظموا هذه الحال منه فرحمه الله ورضى عنه

Suatu hari aku menemui beliau untuk menyampaikan kabar gembira berupa meninggalnya musuh terbesar beliau sekaligus orang yang paling memusuhi dan paling suka menyakiti beliau. Mendengar berita yang kusampaikan, beliau membentakku, menyalahkan sikapku dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilahi raji’un).

Kemudian beliau bergegas pergi menuju rumah orang tersebut. Beliau lantas menghibur keluarga yang ditinggal mati. Bahkan beliau mengatakan, “Aku adalah pengganti beliau untuk kalian. Jika kalian memerlukan suatu bantuan pasti aku akan membantu kalian” dan ucapan semisal itu.”

Akhirnya mereka pun bergembira, mendoakan kebaikan untuk Ibnu Taimiyyah dan sangat kagum dengan sikap Ibnu Taimiyyah tersebut. Moga Allah menyayangi dan meridhoi Ibnu Taimiyyah”.

Perkataan Ibnul Qoyyim di atas saya jumpai dalam Madarij as Salikin 2/328-329, tahqiq Imad ‘Amir, terbitan Darul Hadits Kairo, cetakan pertama 1316H.

Lihatlah bagaimana lapangnya hati Ibnu Taimiyyah, musuh besarnya yang sangat menentang dan paling menyakiti beliau tatkala meninggal maka Ibnu Taimiyyah segera menghibur keluarganya yang ditinggalkan. Bahkan Ibnu Taimiyyah membentak Ibnul Qoyyim yang bergembira dengan kematian musuhnya tersebut.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

Tafsir AL Bayyinah part 2

Tafsir Al Bayyinah Ayat 6-8

 

Ayat 6 :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan keburukan serta kecelakaan yang besar terhadap orang-orang musyrik dan kafir, yaitu kekal di dalam neraka Jahannam. Hal itu terjadi karena dosa kafir dan syirik tidak akan diampuni Allah SWT, kecuali orang tersebut telah bertaubat sebelum ajal menjemputnya.

Kesyirikan para ahli kitab dan orang-orang kafir cukuplah menjadi cap atau tanda bahwa mereka adalah seburuk-buruk makhluk.

Ayat 7 :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa kesholehan hamba-Nya menjadi tanda bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Oleh karena itu, Abu Hurairah dan sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa manusia dapat lebih baik dari malaikat dengan cara beriman dan beramal shaleh.

Ayat 8 :

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan kembali balasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh, yaitu Allah meridhai mereka dan mereka ridha dengan Allah SWT hingga mereka berada dalam kenikmatan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai.

Disebutkan sungai-sungai (الْأَنْهَارُ) karena di dalam surga, terdapat banyak jenis sungai. Mulai dari sungai berair jernih, sungai madu, sungai susu, dan sungai khamr (lihat QS. Muhammad : 15 ).

Dalam suatu hadits berbunyi,
“Orang yang sudah pernah mencicipi khamr di dunia maka ia tidak akan pernah merasakan nikmatnya khamr di akhirat.”

Kemudian, kata خَشِيَ pada ayat ini memiliki perbedaan dengan kata خَوْفُ yang secara bahasa artinya sama-sama “takut”. Kata خَشِيَ pada ayat ini secara istilah yaitu rasa takut yang didasari dengan ilmu.

Semakin orang berilmu atau semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, maka seharusnya semakin besar pula rasa takut orang tersebut kepada Allah SWT. Oleh karena itu pada sebuah ayat disebutkan,
اِنَّماَ يَخْشَ اللّٰهُ العُلَمٰوا
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah ialah para ulama.”

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

WhatsApp Image 2017-03-10 at 10.22.36 AM

Sabar

Berikut adalah rangkuman kultum Riyadhus Sholihin bab Sabar  pada hari Rabu, 8 Maret 2017 yang disampaikan oleh ustadz Jihad ketika para santri beserta ustadz dan ustadzah menyelesaikan jamaah subuh dan membaca Al-Ma’tsurat berjamaah.

Hadits 32: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِيْ جَزاَءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلاَّ الْجَنَّةَ.

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Tidak ada balasan yang pantas bagi hamba-Ku yang beriman, apabila Aku mengambil (mewafatkan) orang yang dicintainya kemudian ia mengharap pahala dari musibahnya tersebut, melainkan surgalah (balasan) baginya.” [HR. Al-Bukhari no. 6424]

* Merupakan musibah dan ujian terbesar yang dihadapi seseorang yaitu ketika kehilangan orang yang dicintainya.
* Bagi orang yang bersabar maka baginya ganjaran yang besar pula yaitu surga.
* Yang dikatakan sabar adalah ketika diawal ditimpanya musibah. Sebagaimana hadits nabi :

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ اْلأُوْلَى.

“Sabar itu adalah pada goncangan yang pertama.” [HR. Al-Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 926 (14)]

 

Hadits 33

وعن عائشة رضي الله عنها أنها سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الطاعون فأخبرها أنه كان عذابا يبعثه الله تعالى على من يشاء فجعله الله تعالى رحمة للمؤمنين فليس من عبد يقع في الطاعون فيمكث في بلده صابرا محتسبا يعلم أنه لا يصيبه إلا ما كتب الله له إلا كان له مثل أجر الشهيد رواه البخاري
Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah tentang Tha’un. Beliau menjawab bahwa Tha’un adalah siksa yang diturunkan Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Juga sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Orang yang ditimpa Tha’un, lalu ia menetap di daerahnya dengan sabar dan ikhlas, dan ia menyadari bahwa tidak ada yang akan menimpanya, kecuali yang sudah ditentukan oleh Allah, maka orang itu akan mendapatkan pahala sebagaimana yang diterima oleh orang yang mati syahid. (HR. Bukhari)

* Tho’un adalah bisul yang sangat menyakitkan yang biasa muncul di sekitar ketiak, sekelilingnya hitam dan diikuti jantung yang berdebar dan muntah-muntah (lihat syarh Riyadhus Sholihin karya Syaikh Salim ibn ‘ied Al-hilali)
* Tho’un merupakan penyakit dan adzab bagi orang-orang terdahulu.
* Namun, merupakan bentuk Rahmat dari Allah bagi kaum muslimin yang bersabar.

Kesedihan, kesusahan dan rasa sakit dapat membuahkan pahala jika orang yang ditimpa bersabar. Dan kekhususan ini hanya berlaku bagi orang yang beriman. Sebagaimana sabda nabi :

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” [HR. Muslim no. 2999]

* Orang yang meninggal karena tha’un dalam keadaan bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, maka pahalanya seperti orang yang mati syahid.
* Orang yang meninggal karena tha’un jasad nya tetap diurus seperti jenazah pada umumnya, dimandikan, dikafani, dll. Tidak seperti orang yang syahid.
* Bagi orang yang terkena tha’un hendaknya ia bersabar dan tidak keluar dari daerahnya agar tidak menyebar wabah penyakitnya. Begitu pula orang yang sehat hendaknya ia tidak memasuki daerah yang terkena wabah tha’un.
* Karantina sudah ada pada sejak zaman Islam.

 

Temukan notulensi kajian lainnya di link berikut ini:

Tafsir Surat Al-Bayyinah Ayat 1-5

Syarat Menjadi Imam Shalat

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam

Tugas dan Wewenang Imam

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

Tafsir Al Bayyinah part 1

Tafsir Surat Al-Bayyinah Ayat 1-5

“1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, 2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), 3. di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. 4. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 1-5)

Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (tidak akan meninggalkan) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.

Hattaa ta’tiyaHumul bayyinaH (Sehingga datang kepada mereka bukti yang nyata.) yaitu Alquran ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi wal musyrikiina mungfakkiina hatta ta’tiyaHumul bayyinaH (Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka] tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata). Kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firmanNya: Rasuulum minallaaHi yatluu shuhufam muthaHHaraH (Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan [al-Qur’an].) yakni Muhammad saw. dan Alquran al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul A’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.

Dan firman Allah Ta’ala: FiHaa kutubung qayyimaH (Di dalamnya terdapat [isi] Kitab-kitab yang lurus.) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.

Wa maa tafarraqal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-atHumul bayyinaH (Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab [kepada mereka] melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.) yang demikian itu  seperti firman Allah yang lainnya: wa laa takuunuu kalladziina tafarraquu mim ba’di maa jaa-aHumul bayyinaatu wa ulaa-ika laHum ‘adzaabun ‘adziim. Dan janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imraan: 105). Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.

Wa maa umiruu illaa liya’budullaaHa mukhlishiina laHuddiina (Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam [menjalankan] agama) hunafaa-a (Yang lurus) yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju pada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya  dalam surat al-An’am. Wa yuqiimuunash shalaaH (Dan supaya mereka mendirikan shalat) yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. Wa yu’tuzzakaa (Dan menunaikan zakat) yaitu berbuat baik kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Wa dzaalika diinul qayyimah (Dan yang demikian itulah  agama yang lurus) yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau umat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi’i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu termasuk dalam keimanan.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

shalat_jamaah_1

Tugas dan Wewenang Imam

Imam punya tugas yang dibebankan di pundaknya dan juga dan wewenang yang menjadi wilayah kekuasaannya. Di antaranya adalah:

 

1. Memberi Izin Adzan dan Iqamah

Adzan dan iqamah adalah tugas muadzdzin, namun kapan dibolehkan bagi muadzdzin untuk menjalankan tugasnya, komandonya berada di tangan imam. Dalam hal shalat berjamaah di masjid, imam masjid punya wewenang untuk mengundurkan jadwal shalat berjamaah, sehingga sebelum mengumandangkan adzan, seorang muadzdzin meminta izin terlebih dahulu kepada imam. Bila izin diberikan, tugas dijalankan. Sebaliknya, bila izin tidak diberikan,
maka muadzdzin harus tunduk kepada ketetapan imam.

Dasar dari wewenang ini adalah tindakan Bilal bin Rabah radhiyallahuanhu ketika menjadi muadzdzin Rasulullah SAW. Beliau selalu meminta izin terlebih dahulu bila akan mengerjakan tugasnya sebagai muadzdzin, baik untuk adza maupun iqamah. Dan tidak akan melantunkan iqamah manakala beliau belum mendapat izin dari Rasulullah SAW. Perhatikan bahwa istilah muadzdzin melekat dengan nama Rasulullah SAW, menjadi muadzdzin Rasulullah. Ini menandakan bahwa Bilal selalu berkoordinasi dengan Rasulullah SAW dalam menjalankan tugasnya.

 

2. Memeriksa Kerapatan dan Kelurusan Barisan

Sebelum shalat berjamaah dijalankan, tugas dan wewenang imam shalat adalah memastikan apakah barisan makmum di belakangnya sudah rapat dan lurus atau belum. Dasarnya adalah hadits berikut ini :

“Luruskan barisan kalian dan rapatkan, karena Aku bisa melihat kalian dari balik punggungku.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya Nabi SAW bila akan memulai menjadi imam shalat beliau melihat ke kanan dan berkata,”Luruskan barisan kalian”. Dan juga menengok ke kiri sambil berkata,”Luruskan barisan kalian”. (HR. Abu Daud)

 

3. Memberi Informasi Yang Diperlukan

Dianjurkan bagi imam sebelum memulai shalat jamaah, untuk menjelaskan apa-apa yang akan dilakukan di dalam shalat nanti, apabila ada hal-hal yang di luar kebiasaan. Misalnya dalam shalat qashar, yaitu shalat Dzhuhur, Ashar atau Isya’, yang seharusnya empat rakaat menjadi hanya dua rakaat. Sebelum memulai sebaiknya imam memberi informasi terlebih dahulu kepada makmum agar mereka tidak terkecoh.

Demikian juga dalam shalat witir, terkadang ada yang melakukannya dua rakaat plus satu rakaat. Dan ada juga yang mengerjakannya langsung tiga rakaat. Karena banyak variasinya, maka sangat baik bila sebelumnya imam telah menginformasikan terlebih dahulu. Demikian juga, bila imam berniat akan melakukan sujud tilawah saat membaca ayat sajdah, bila makmu belum terbiasa melakukannya, sebaiknya imam menjelaskan terlebih dahulu, agar makmum tidak terkaget-kaget.

 

4. Meringankan Shalat

Kesalahan yang seringkali dilakukan oleh imam shalat jamaah adalah memperlama gerakan dan bacaan shalat, termasuk memperlama ruku’ dan sujud. Barangkali dikiranya, semakin lama shalat itu dijalankan, semakin besar pahalanya.

Padahal justru syariat Islam lebih mengutamakan shalat yang singkat dan tidak berlama-lama, khususnya dalam shalat berjamaah lima waktu. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Bila kalian menjadi imam buat orang-orang, maka ringankanlah. Sebab di antara mereka barangkali ada orang sakit, lemah dan tua.” (HR. Bukhari) 

Pernah suatu ketika Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu menjadi imam shalat jamaah, lalu beliau memperlama durasi shalat itu. Ketika Rasulullah SAW mendengar kabar itu, beliau pun menegur shahabatnya dengan hadits yang diriwayatkan sampai kepada kita:

“Apakah kamu mau menjadi sumber fitnah wahai Muadz? Shalatlah bersama suatu kaum sesuai dengan kemampuan orang yang paling lemah di antara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bila seseorang shalat sendirian, apalagi shalat malam, maka lebih utama kalau dilakukan dalam durasi yang lama. Kalau pun ada makmum yang ikut dalam shalat malam yang lama itu, setidaknya hal itu bukan kewajiban, melainkan memang keinginan makmum itu sendiri.

 

5. Menunggu Masbuk

Seorang imam dianjurkan untuk dapat memberi kesempatan kepada para makmum agar bisa mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Salah satu caranya adalah anjuran bagi imam agar memberi kesempatan makmum yang tertinggal (masbuk) agar mendapatkan rakaat. Misalnya, bila imam merasakan ada orang yang sedang berupaya untuk mendapatkan satu rakaat bersama imam, maka  imam dianjurkan untuk memperlama hingga makmum yang tertinggal itu bisa mendapatkan rakaat itu. Batasnya adalah ruku’, dimana imam dibenarkan untuk sedikit lebih memperlama panjang ruku’nya demi agar makmum bisa mengejarnya.

Hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dimana beliau agak memperlama rakaat pertama dan tidak segera ruku dan sujud, hingga beliau tidak lagi mendengar langkah-langkah kaki dari makmumnya yang sedang berjalan menuju barisan shalat.

Bahkan beliau seringkali memperlambat dimulainya shalat bila melihat jamaah belum berkumpul semuanya. Misalnya dalam shalat Isya’, beliau seringkali menunda dimulainya shalat manakala dilihatnya para shahabat belum semua tiba di masjid.

“Dari Abi Bazrah Al-Aslami berkata,”Dan Rasulullah suka menunda shalat Isya’, tidak suka tidur sebelumnya dan tidak suka mengobrol sesudahnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Dan waktu Isya’ kadang-kadang, bila beliau SAW melihat mereka (para shahabat) telah berkumpul, maka dipercepat. Namun bila beliau melihat mereka berlambat-lambat, maka beliau undurkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Semua ini dalam pandangan mazhab Asy-syafi’iyah dan AlHanabilah merupakan anjuran, namun sebaliknya mazhab AlMalikiyah dan Al-Hanafiyah tidak menganjurkannya.

6. Istikhlaf

Apabila imam batal dari shalat atau wudhu’nya, sedangkan makmum tidak mengalaminya, maka disunnahkan agar imam melakukan istikhlaf. Istikhlaf adalah tindakan imam yang mengalami batal dalam shalatnya, lalu meminta kepada salah satu makmumnya, biasanya yang berdiri tepat di belakangnya, untuk maju menggantikan posisinya sebagai imam. Semua dilakukan ketika shalat jamaah sedang berlangsung.

Istikhlaf dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu ketika menjadi imam shalat. Tiba-tiba beliau mengetahui bahwa Rasulullah SAW datang ke masjid ikut shalat jamaah. Maka Abu Bakar melakukan istikhlaf, Rasulullah SAW kemudian maju mengantikan dirinya menjadi imam.

Istikhlaf juga dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu ketika beliau ditusuk dengan khanjar (sejenis belati) oleh pembunuhnya, kala beliau sedang menjadi imam saat shalat shubuh di masjid Nabawi. Dalam keadaan payah beliau menarik orang yang berdiri di belakangnya untuk menggantikan dirinya menjadi imam.

Istikhlaf juga dilakukan oleh Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu dengan kejadian yang sama, yaitu ketika beliau menjadi imam shalat shubuh dan ditikam dari belakang. Shalat berjamaah tidak lantas bubar, dan beliau meminta orang yang berdiri di belakangnya untuk menggantikan dirinya menjadi imam shalat.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

berjamaah-3

Siapa yang Lebih Berhak Menjadi Imam?

Kalau sebelumnya kita sudah membahas syarat-syarat menjadi imam, sehingga bila syarat itu tidak terpenuhi, maka seseorang tidak boleh menjadi imam, maka sekarang kita bicara bila di antara jamaah shalat semuanya sudah memenuhi syaratsyarat itu, lalu menjadi pertanyaan sekarang adalah siapakah yang lebih berhak menjadi imam? Siapa yang harus didahulukan?

Masalah ini seringkali jadi bahan perdebatan, lantaran sering terjadi orang-orang saling tunjuk hidung orang lain untuk menjadi imam. Kadang-kadang dasarnya dibuat-buat, misalnya karena seseorang sudah menikah sedangkan jamaah lainnya
belum menikah, maka yang sudah menikah dimajukan menjadi imam.

Kadang karena usia, dimana orang yang lebih tua seringkali dijadikan imam. Bahkan kadang ada juga pertimbangan karena keturunan, mentang-mentang anak kiyai, ustadz atau mengaku sebagau dzurriyah (keturunan) Rasulullah SAW, lantas
dinobatkan menjadi imam shalat jamaah. Namun yang menjadi pertanyaan, benarkan alasan-alasan itu? Dan kalau benar, pertimbangan manakah yang harus
didahulukan?

 

1. Lebih Paham Fiqih

Jumhur ulama, yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah lebih mendahulukan orang yang afqah, yaitu  lebih mengerti ilmu fiqih, khususnya fiqih shalat untuk menjadi imam shalat berjamaah, dari pada orang lebih yang fasih dalam
bacaan ayat Al-Quran.

Dasarnya adalah Rasulullah SAW ketika berhalangan dari ikut shalat berjamaah pada detik-detik menjelang wafatnya, beliau meminta Abu Bakar Ash – Shiddiq radhiyallahuanhu yang lapasitasnya lebih faqih dalam urusan agama, dibandingkan
shahabat yang lain untuk menggantikannya menjadi imam shalat berjamaah.

Padahal saat itu ada banyak shahabat beliau yang bacaannya jauh lebih fasih, seperti Ubay bin Ka’ab radhiyallahuanhu. Bahkan Rasulullah SAW mengakui bahwa Ubay bin Kaab adalah orang yang paling fasih bacaan Al-Qurannya.

“Orang yang paling fasih bacaannya diantara kalian adalah Ubay.” (HR. Tirmizy)

Dan hal yang sama juga diakui oleh banyak shahabat Nabi, diantaranya pengakuan Abu Said Al-Khudhri. Beliau radhiyallahuanhu tegas menyatakan, “Abu Bakar adalah orang yang paling tinggi ilmunya di antara kita semua.

Namun beliau SAW tidak meminta Ubay bin Kaab yang menggantikan posisi dirinya sebagai imam shalat berjamaah di masjid Nabawi saat itu. Justru beliau meminta Abu Bakar AshShiddiq radhiyallahuanhu, yang nota bene adalah orang yang paling paham ilmu agama dan syariah Islam.

 

2. Lebih Fasih

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang yang lebih berhak untuk menjadi imam dalam shalat jamaah adalah orang yang lebih fasih bacaannya. Mazhab ini menomor-satukan masalah kefasihan bacaan Al-Quran ketimbang keluasan dan  kedalaman ilmu fiqih.
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW :
Bila ada tiga orang, maka salah satu dari mereka menjadi imam. Dan orang yang lebih berhak menjadi imam adalah yang lebih aqra’ di antara mereka.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Selain urusan kefasihan atau kefaqihan, ada hadits lain yang membicarakan tentang bilamana para jamaah shalat punya kemampuan yang setaraf, lalu pertimbangan apalagi yang harus dijadikan dasar.

Di antaranya masalah siapa yang lebih paham dengan sunnah nabawiyah, juga yang lebih dahulu berhijrah, yang lebih tua usianya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah orang yang lebih aqra’ pada kitabullah. Bila peringkat mereka sama dalam masalah qiraat, maka yang lebih paham dengan sunnah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih dahulu berangkat hijrah. Bila peringkat mereka sama, maka yang lebih banyak usianya. Namun janganlah seorang menjadi imam buat orang lain di wilayah kekuasaan orang lain itu, jangan duduk di rumahnya kecuali dengan izinnya.” (HR. Muslim)

 

3. Yang Punya Wilayah

Hadits di atas juga mengisyaratkan bahwa orang yang menjadi penguasa suatu wilayah, baik negara, provinsi, daerah,  kampung dan bahkan rumah tangga, bila berhak menjadi imam. Tentu bila dalam hal kefaqihan dan kefasihan punya derajat
yang sama.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

WhatsApp Image 2017-02-24 at 8.41.51 AM

Syarat Menjadi Imam Shalat

Seorang imam adalah pimpinan dalam shalat berjamaah, dimana tanpa imam tidak ada shalat jamaah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang imam shalat sebenarnya amat sederhana, yaitu shalat yang dia lakukan itu hukumnya sah, setidaknya menurut makmum yang ikut shalat di belakangnya.

Maka syarat seorang imam pada hakikatnya sama dengan syarat untuk seorang yang melakukan shalat. Namun untuk lengkapnya, kami sampaikan juga tulisan para fuqaha muktamad tentang syarat-syarat imam

1. Muslim

Beragama Islam adalah syarat pertama seorang imam. Dan syarat ini sudah pasti ada, sebab jangankan menjadi imam, sekedar shalat saja pun seseorang disyaratkan harus beragama Islam. Namun boleh jadi pernah ada kasus di masa lalu, dimana ada orang menjadi imam shalat padahal bukan muslim, sehingga para ulama mencantumkan syarat keislaman sebagai syarat nomor satu sebagai seorang imam.

Namun kalau benar hal itu terjadi, mungkin sewaktu menjadi imam dirinya tidak mengaku, tetapi lama-lama ketahuan juga bahwa sebenarnya dia seorang non muslim, yang menjadi pertanyaan adalah apakah shalat para makmum itu sah?

Dalam hal ini mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Hanabilah  mengatakan bahwa tidak perlu lagi makmum mengulangi
shalatnya, karena ketidak-tahuan iu membuat shalat mereka sah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan mazhab AsySyafi’iyah mengatakan bahwa makmum berkewajiban untuk mengulangi shalatnya, sebab makmum telah lalai dari memeriksa keislaman sang imam.

2. Berakal

Seluruh ulama sepakat bahwa syarat yang juga harus terpenuhi bagi seorang imam harus berakal. Sehingga orang yang mabuk, gila, ayan dan sejenisnya, tidak sah untuk menjadi imam, karena shalatnya sendiri pun juga tidak sah.

3. Baligh

Seluruh fuqaha dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah sepakat bahwa seorang imam baru sah
memimpin shalat fardhu bila dia telah berusia baligh. Dalam pandangan mereka, seorang anak yang baru sekedar mumayyiz tidak sah bila menjadi imam shalat fardhu. Beda antara mumayyiz dengan baligh adalah bahwa baligh
itu sudah mimpi dan keluar mani. Sedangkan mumayyiz secara biologis memang belum keluar mani, namun secara akal dan kesadaran sudah paham dan mengerti, dia bisa membedakan mana baik dan mana buruk.

Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:
“Janganlah kamu majukan (jadikan imam) anak-anak kecil di antara kalian.” (HR. Ad-Dailami).

Shalat seorang anak yang belum baligh jatuhnya menjadi sunnah, meski pun dia melakukan shalat 5 waktu. Dalam  pandangan mereka, orang yang melakukan shalat wajib tidak boleh bermakmum di belakang orang yang shalat sunnah. Sedangkan mazhab Asy-Syafi’iyah mengatakan bahwa anak yang sudah mumayyiz meski belum baligh sudah sah bila menjadi imam shalat fardhu maupun shalat sunnah dengan makmum orang dewasa.

Dasarnya adalah hadits bahwa Amru bin Salamah menjadi imam ketika masih berusia 6 atau 7 tahun.

“Dari Amru bin Salamat radhiyallahuanhu bahwa dirinya menjadi imam atas suatu kaum di masa Rasulullah SAW ketika masih berusia enam atau tujuh tahun.” (HR. Al-Bukhari)

Hal yang sama juga terjadi pada diri Abdullah bin Abbas radhiyallahuanhu, yang ketika masih kecil sudah mumayyiz tapi belum baligh, sudah menjadi imam shalat bagi kaumnya. Namun demikian, tetap saja mazhab ini lewat Al-Buwaithy mengutamakan imam yang sudah baligh dari pada yang baru mumayyiz, meski yang baru mumayyiz ini barangkali lebih fasih bacaannya.

 

4. Laki-laki Menjadi Imam Buat Perempuan

Tanpa pengecualian, seluruh fuqaha sepakat bahwa seorang perempuan hanya boleh menjadi imam sesama perempuan saja, sedangkan bila mengimami makmum laki-laki, hukumnya tidak sah. Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW:

“Janganlah seorang wanita menjadi imam buat laki—laki.” (HR. Ibnu Majah)

“Posisikan para wanita di belakang sebagaimana Allah SWT memposisikan mereka di belakang.” (HR. Abdurrazzaq)

Sedangkan bila seorang wanita mengimami jamaah yang semuanya wanita, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama yaitu mazhab Al-Hanafiyah, Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah membolehkan sepenuhnya. Dasarnya adalah izin yang Rasulullah SAW berikan kepada Ummu Waraqah kala mengimami shalat fardhu berjamaah dengan makmum yang semuanya terdiri dari wanita.

“Dari Ummu Waraqah radhiyallahuanha bahwa Nabi SAW mengizinkannyua menjadi imam bagi wanita anggota keluarganya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Namun mazhab meski membolehkan tetapi mazhab Al-Hanafiyah masih memakruhkan imam perempuan, meski
semua jamaahnya perempuan. Dasarnya karena menurut pandangan mereka, wanita adalah orang yang tidak bisa terlepas dari sifat naqsh (kekurangan). Sebagaimana mereka tidak disunnahkan untuk melantunkan adzan dan iqamah, maka mereka juga tidak disunnahkan untuk menjadi imam, meski dengan sesama jamaah wanita.
Sedangkan mazhab Al-Malikiyah tegas-tegas menolak perempuan menjadi imam, meski semua jamaahnya wanita, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah.

 

5. Mampu Membaca Al-Quran

Syarat mampu membaca Al-Quran disini maksudnya adalah mampu melafadzkan ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem, setidak-tidaknya bacaan surat Al-Fatihah yang menjadi rukun dalam shalat pada tiap rakaatnya.

Hal ini mengingat bahwa para ulama banyak mengatakan bahwa bacaan Al-Fatihah makmum ditanggung oleh imam. Maka kalau bacaan imamnya bermasalah, tentu saja shalat berjamaah itu menjadi terkena imbasnya.

Maka makruh hukumnya orang yang terbata-bata dalam melafadzkan Al-Quran untuk menjadi imam, seperti fa’fa’, yaitu orang yang selalu mengulang-ulang huruf fa’, juga tam-tam, yaitu mereka yang sering mengulang-ulang huruf ta’.

 

6. Tidak Berpenyakit

Yang dimaksud tidak berpenyakit disini adalah orang imam tidak boleh berpenyakit yang sekiranya membatalkan shalatnya, seperti orang yang sakit kencing, dimana dia tidak bisa menahan kencingnya dan keluar dengan sendirinya. Orang Arab mengistilahkan dengan penyakit salasul-baul. Begitu juga orang yang selalu kentut dan tidak bisa menahannya, tidak boleh menjadi imam.

Termasuk juga orang yang luka dan darahnya mengalir terus tidak berhenti sehingga membasahi tubuh, pakaian atau tempat shalat. Orang-orang seperti ini meski selalu basah dengan najis, tidak gugur kewajibannya untuk menjalankan shalat fardhu. Namun mengingat dia punya masalah dengan najis dan shalatnya bernilai darurat, maka tidak layak bila dia menjadi imam.


7. Mampu Mengerjakan Semua Rukun Shalat

Seorang imam dituntut untuk bisa mengerjakan semua rukun shalat secara lengkap dan sempurna. Sebab rukun shalat ada tiang-tiang penyangga bangunan, dimana bila salah satu tiang penyangga utama itu runtuh, maka bangunan itu pun  akan runtuh juga. Dan kedudukan seseorang yang shalat sebagai imam mengharuskannya mampu mengerjakan semua rukun shalat secara lengkap tanpa kurang satu pun.

Berbeda dengan makmum yang dibolehkan kekurangan satu atau dua rukun, selama masih bisa ditanggung imam. Misalnya membaca surat Al-Fatihah yang merupakan rukun shalat, bila imam sudah membacanya, maka makmum yang masbuk dan mendapati imam sedang dalam posisi ruku’ dianggap telah gugur kewajibannya untuk membaca surat AlFatihah. Makmum dihitung sudah mendapatkan satu rakaat manakala masih sempat ruku’ sejenak bersama imam.

 

8. Tidak Kehilangan Syarat Sah Shalat

Seorang imam dituntut untuk tidak kekurangan satu pun dari syarat sah shalat. Sebagaimana sudah dijelaskan pada baba sebelumnya, diantara syarat sah shalat adalah:

  1. Tahu Waktu Shalat Sudah Masuk
  2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil
  3. Suci Badan, Pakaian dan Tempat
  4. Menutup Aurat
  5. Menghadap ke Kiblat

Bila seorang imam kekurangan satu saja dari syarat sah shalat di atas, maka dia tdak sah menjadi imam.

Misalnya seorang imam tidak bisa mengangkat hadats, karena tidak ada air dan tanah sekaligus, maka meski wajib tetap shalat, namun tidak perlu shalat berjamaah. Karena imamnya tidak memenuhi syarat sah shalat.

 

9. Niat

Apakah untuk menjadi imam shalat disyaratkan berniat menjadi imam sejak awal shalat jamaah dilakukan?

Umumnya para ulama seperti Asy-syafi’iyah dan AlMalikiyah tidak mensyaratkan niat untuk menjadi imam sejak awal shalat. Sehingga seorang yang shalat sejak awal niatnya  shalat munfarid (sendirian), lalu ada orang lain mengikutinya dari belakang, hukumnya sah dan boleh.

Sebaliknya, dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, hukumnya tidak boleh, kecuali imam dan makmum sama-sama shalat sunnah. Sedangkan bila niatnya shalat wajib, tidak sah hukumnya untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang shalat sendiri dan tidak berniat menjadi imam.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

QURAN COURSE

15874926_1347222375319159_8815103266859338125_o

 

“Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah SWT, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkajinya, melainkan mereka akan dilimpahi ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud).

Kamu mau belajar Quran, tapi sibuk kerja atau sibuk kuliah?

Yuk gabung bersama kami di program *Quran Course Indonesia Quran Foundation.*

Program tahsin REGULER selama 16x pertemuan di Asrama IQF (weekend).

Atau kamu bisa memilih tempat, waktu dan teman belajar sendiri, dengan ikut
Program BILAL (bimbingan luar lembaga)

*CATAT TANGGALNYA, ya!*
Pendaftaran : 2-15 Januari 2017
Tes dan Pengelompokan : 15 Januari 2017
Pengumuman penerimaan : 16 Januari 2017

Format pendaftaran : Nama lengkap_jenis kelamin_usia_no. Hp_alamat_hari belajar yang dipilih

Untuk info lebih lanjut silakan hubungi
CP : 085793024737

Indonesia Quran Foundation
“Terbentuknya Generasi yang Beradab, Berilmu, & Berkarakter Quran”

Web: www.iqf.or.id
Line: bit.ly/Line-IQF
IG: @IndonesiaQuran

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

Whoever comes to Me walking, I go to him at speed

right-1

 

“Udah gak usah terlalu dipikirin pi, nanti juga ada kok jalannya.. insya Allah, Allah mudahkan..”

Sebuah nasihat singkat, yang meredakan kegalauanku karena baru saja mendapat konfirmasi kalau aku gak lolos jadi santri program Tahfidz Smart 4 Indonesia Quran Foundation. Sempat bingung, umur udah masuk 20an tapi masih banyak hal-hal yang aku tidak tahu tentang agamaku sendiri, terlebih tentang Al-Qur’an. Memang sejak kecil aku belajar agama ya hanya kalau pelajaran agama saja,  belajar ngaji ya pas TPA saja, sekolah dari SD sampai kuliah gak ada yang basis agamanya kuat. Kadang, kalau bingung masalah agama ya paling googling, itupun selalu ada keraguan, apakah itu benar dan dapat dipertanggung jawabkan? Ya Allah… kemana saja aku selama 20 tahun ini?…

Continue reading “Whoever comes to Me walking, I go to him at speed” »

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More

FIKIH MANDI JUNUB

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN MANDI JUNUB

(فصل) وفرائض الغسل ثلاثة أشياء النية وإزالة النجاسة إن كانت على بدنه وإيصال الماء إلى جميع الشعر والبشرة. وسننه خمسة أشياء التسمية والوضوء قبله وإمرار اليد على الجسد والمولاة وتقديم اليمنى على اليسرى.

Terjemah :
قال المصنف:
((وفرائض الغسل ثلاثة أشياء))
((Dan hal-hal yang termasuk di dalam kewajiban/rukun mandi ada 3 macam))

⇒Maksudnya di sini adalah, bahwasanya tiga perkara ini harus ada di dalam thāharah (mandi) seseorang, agar mandinya termasuk mandi yang dianggap sah di dalam syari’at.

Jika tidak ada 3 hal ini, maka thahārah-nya tidak dianggap sah di dalam syari’at.

• SYARAT PERTAMA
((النية))
((Niat))

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan mandi bisa merupakan kebiasaan belaka, namun juga dia bisa bernilai ibadah. Dan yang membedakan hal itu adalah niat seseorang.

Oleh karena itu, jumhur (mayoritas) para ulama dari kalangan Mālikiyyah, Syāfi’iyyah, dan Hanābilah, mereka mengatakan bahwa:

◆ Niat adalah syarat sahnya thahārah mandi seseorang.

Niat itu letaknya di dalam hati. Seseorang yang hendak mandi junub, maka dia hendaknya meniatkan di dalam dirinya untuk:
✓Melaksanakan thahārah mandi, agar mengangkat hadats akbar yang ada pada dirinya, atau
✓Berniat melaksanakan mandi wajib, atau
✓Thahārah mandi untuk shalat.
✓Dan semisalnya.

Oleh karena itu, tidak sah dan tidak cukup jika hanya berniat untuk mandi saja atau sekedar thahārah saja, tanpa ada niat untuk mengangkat hadats atau berniat agar bisa melaksanakan ibadah, seperti shalat dan lainnya.

• SYARAT KEDUA

((و إزالة النجاسة إن كانت على بدنه))
((Dan menghilangkan najis yang ada pada dirinya))

Jika terdapat pada seseorang najis ‘ayniy (yaitu najis yang bisa dirasakan oleh panca indera), maka najis/kotoran tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum dia mandi.

✓Dan syarat kedua ini adalah ittifāq (kesepakatan) para imam madzhab.

• SYARAT KETIGA

((وإيصال الماء جميع الشعر والبشرة))
((Dan meratakan air ke seluruh rambut dan kulit))

Ini adalah wajib hukumnya, baik mereka yang berambut tipis maupun berambut lebat, harus diratakan semua.

Facebooktwittergoogle_pluspinterestlinkedintumblrmail

Read More